zine

“Zine punya elemen Jurnalisme?” Mungkin banyak dari kita yang belum tahu apa itu zine, bagaimana dan seperti apa bentuknya. Banyak orang hanya sekali melihat lalu menganggap ini bentuk propaganda kiri, komunis, ateis dan lain-lain berbentuk cetak. Sebenarnya Zine tidak seburuk dan sepicik stereotipe demikian, karena Zine pun isinya berragam. Untuk mengetahui lebih lanjut, lebih baik kita sama-sama belajar tentang apa itu Zine sesungguhnya dan berbagai alasan mengapa saya bisa berhipotesa kalau Zine bisa dianggap sebagai media alternatif.

Pengenalan singkat tentang Zine.

Nama “Zine” diambil sebagai kependekan dari fanzine1 dan berasal dari potongan huruf magazine (majalah). Zine biasanya merupakan sejenis media cetak atau fotokopian (formathard copy lebih miripnew sletter / bulletin kecil) yang diedarkan dalam jumlah cetakan terbatas dengan ruang lingkup yang terbatas pula. Zine sendiri tujuan publikasinya adalah sebagian besar untuk berbagi informasi dan ide-ide semata, sehingga dijual murah (mungkin tepatnya balik modal si penulis zine) atau malah gratis.

Zine ini sebenarnya konsepnya mirip dengan majalah, hanya saja pengorganisasiannya tidak harus ditulis secara professional, isi dan format tidak harus selalu sama, tidak dikejar deadline dan mampu dilepas-edarkan kapanpun, dan jumlah cetakan pun biasanya disesuaikan dengan isi kantong pembuatnya, yang biasanya dicetak dengan sistem fotokopi. Topik yang mungkin termuat dalam satu zine pun sangat luas, bisa beragam mulai dari isu sosial-politik, curhat pribadi, atau bahkan berisi materi seks yang kurang lebih semuanya lebih sering ndihindari untuk diangkat oleh media-media mainstream. Singkatnya, zine adalah media cetak dengan kebebasan penuh dalam memproduksi maupun berkreasi.
Zine di Indonesia?
fanzine = sejenis media yang dibuat secara bebas dan tidak harus menggunakan keahlian tertentu,
diciptakan oleh komunitas penggemar hal-hal yang biasanya tidak mudah ditemui di ruang masyarakat.
Contoh: fanzine berisi cara membuat Bong untuk kalangan pecinta ganja.

Mungkin ada yang tekejut kalau ternyata Zine di indonesia muncul bersamaan dengan masuknya budaya perlawanan (counter-culture) -yang ternyata berhasil menembus barikade Orde Baru- ke Indonesia. Budaya perlawanan ini sendiri bermanifestasi dalam bentuk musik dan juga ideologi yang dikandung didalamnya. Sebut saja yang paling dikenal, musik punk rock. Seperti juga fenomena yang terjadi diluar negeri dahulu, saat musik punk dibawa oleh trend, teknologi bernama internet, juga mahasiswa yang pulang dari sekolah di negeri orang, budaya memproduksi Zine turut hadir dan berkembang bersamaan dengan kemajuan pergerakan counterculture yang juga sering kita kenal bernamaund erground atau “bawah tanah”.
Kehadiran Zine ini juga mampu mematahkan anggapan bahwa komunitas
underground di Indonesia hanya berisi orang-orang malas atau hanya bisa rusuh dan

mabuk-mabukan saja. Justru Zine bertema subkultur dan musikunderground ini sebagian besar dipopulerkan oleh kalangan kecil intelektual kampus yang berangkat dari komunitas tersebut, yang pada kenyataannya merupakan generasi ‘rahasia’ yang sadar sosial, sangat melek media, berdigdaya teknologi (umumnya mereka berkomunikasi dengan komunitasunder ground luar dengan fasilitas internet untuk bertukar informasi) dan paham serta kritis terhadap ilmu sosial (mau tahu hal yang lebih mengejutkan? Banyak pioneer ‘senior’ gerakan Zine ini sekarang merupakan jurnalis dan beralmamater di jurusan komunikasi. Contoh: Arian 13, vokalis Seringai, salah seorang pionir gerakan
underground dan Zine, kini bekerja di majalah Playboy edisi Indonesia).

Setelah melihat tulisan diatas pasti akan banyak yang mengeluh “wah, kalau begitu Zine di Indonesia punya monopoli temaun derground saja ya?”.Tidak juga. Isu-isu sosial sangat banyak bermain sebagai isi Zine di Indonesia. Sebut saja isu-isu paling terkenal serng diangkat di dunia zine, seperti misalnya: globalisasi, paham cinta lingkungan, pembodohan media, penjajahan atas negara dunia ketiga, kritik-kritik konsumtivisme, anarkisme dan marxism yang “sesungguhnya”, dan lain-lain.

Tapi, tidak semua Zine isinya se-“seram” diatas,loh! Ada juga Zine yang membahas puisi, curhat, pertukaran opini, desain, komik, musiknon-underground, gaya hidup vegetarian, lesbian dan homoseks, dan masih banyak lagi topik yang bisa diambil.

Yang pasti konteksnya tergantung pada kemauan penulis. Zine biasa di edarkan di konser-konser & toko-toko kaset musikunderground /indie, distro, lapak penjual kaset impor bajakan sampai kepada sistemmai l order dan prabayar.

menurut Kudzokojek si Estehjeruk2:
ada tiga bentuk Zine:
1. zine yang seluruh isinya dibuat atau ditulis sendiri oleh editor atau sebelumnya belum
pernah dipublikasikan dimedia lain.
2. zine yang sebagian isinya dibuat sendiri dan sebagian lagi hasil mengambil artikel
dari sumber lain yang sudah ada sebelumnya.
3. zine yang seluruh isinya hasil dari mengumpulkan dari sumber lain.
Selain itu, masih menurut Kudzokojek si Estehjeruk, zine punya tiga kategori:

1. Zine dengan format foto kopian > bentuk yang paling banyak ditemukan, zine digandakan dengan sistem fotokopi, dan biasanya dalam jumlah sangat terbatas (contoh: Tiga Belas, Empathy Lies, Confusion). Catatan: Zine jenis ini yang paling umum dan harganya paling terjangkau -malah seringkali gratis. Kelemahanya adalah kualitas fotokopian seringkali buram

2. Zine dengan format stensilan > zine dicetak menggunakan alat cetak, biasanya sampul berwarna tetapi isinya menggunakan stensil hitam putih, biasanya mempunyai penyebaran yang lebih luas dibanding yang di fotokopi. (contoh: Fallen Angel, Rettrovore). Catatan: ini Zine ‘kelas menengah’ yang penggarapannya lebih serius dan harganya bisa lebih mahal dikit tapi punya kualitas lebih baik
3. Zine dengan format kertas yang lebih lux.> ini bentuk paling bergaya, biasanyafull
colour dan menggunakan kertas yang lebih tebal. (contoh: Ripple, Trolley, Outmagz).

Catatan:Waw, inilah jenis Zine yang kualitasnya menandingi kualitashardcopy majalah-majalah mainsteam dengan isi yang tetap ideal dan sesuai dengan suara hati. Jenis Zine ini yang paling mahal namun isinya ‘sesuai’ dengan harga yang terbayar

klik , mengapa kapitalisme menyebalkan

perlawanan scooter gembel
sumber :
Muh. Irfan Handeputra |h tt p: //med ia ku .org