kabar mentawai

PASAPUAT—Tak kunjung didistribusikannya bantuan ke daerah-daerah yang terkena gempa dan tsunami di Mentawai membuat masyarakat gusar. Mereka menilai alasan Pemkab bahwa bantuan sulit didistribusikan karena kendala cuaca dan terbatasnya sarana pendistribuasian tak bisa diterima.
“Kalau memang tidak bisa  karena badai atau gelombang besar mengapa bantuan dari TNI, PMI, LSM bisa? Apa bedanya kapal mereka dengan kapal Pemkab? Kalau dikatakan badai yang jadi halangan,mengapa badaii tak menghalangi orang-orang itu?” sergah Kaharuddin Nasution (60), warga Dusun Pasapuat, Desa Saumanganya, Kecamatan Pagaui Utara pada Puailiggoubat di Pasapuat Senin (1/11).
Menurut Kaharuddin yang mengaku sudah sejak 1972 tinggal di Pasapuat, sepertinya Pemkab memang tak berniat menyalurkan bantuan yang sudah menumpuk di Sikakap tersebut.
“Mereka ingin mengangkangi bantuan tersebut seperti yang terjadi pada tahun 2007, 2008 dan 2009, saat Mentawai juga kena bencana gempa,” tuduhnya kesal. “Banyak bantuan yang diperjualbelikan atau dibagi-bagi nsesama mereka saja, atau mereka biarkan membusuk di gudang, lalu dibuang saja ke laut, dasar pemimpin tak peduli rakyat!” geramnya.
Kaharuddin menambahkan bahwa warga Pasapuat sudah mendengar banyaknya bantuan yang menumpuk di Sikakao.  Bantuan tersebut tak kunjung didistribusikan karena alasan cuaca ekstrim yang menimbulkan badai dan gelomang tinggi. “Mereka takut sepatu, celana dan bajunya basah mungkin? Sindirnya ketus.
Warga Pasapuat, menurut Kaharuddin, sudah seminggu kelaparan. Bantuan yang masuk baru dari TNI, PMI, PKPU, Act, Bazis, dan Surfaid International yang hari Ini mengantarkan bantuan perlengkapan aneka macam, Pemkab sama sekali belum, padahal bantuan Presiden pun ada sama mereka dan wewenang pendistribusiannya ada pada mereka,” katanya geram.
“Kalau cuaca dan keterbatasan sarana yang dijadikan alasan, mengapa mereka tidak memanfaatkan armada pihak swasta ini? Toh kapal-kapal mereka cukup besar, dan mereka juga berani mengantarkannya dalam kondisi badai, mereka juga tidak takut basah atau jatuh ke air, lagipula mereka kan tak mungkin menolak permintaan pemerintah karena ini  kondisi darurat bencana, tapi mana? Mereka juga tak dimanfaatkan! Padahal mereka terbukti bisa mengantarkan bantuan meski badai menggila,” katanya.
Mengungsi
Penduduk Pasapuat tercatat sebanyak 117 KK atau 483 jiwa, kini sebagian besar mengungsi ke perbukitan di belakang kampong. Di dusun ini tak terdapat korban jiwa, korban luka-luka juga hanya 3 orang, itupun luka ringan, tapi bangunan mereka nyaris hancur seluruhnya. Rumah, sekolah, rumah ibadah, pustu, kedai, berantakan semua, bahkan ada yang pindah tempat sampai beberapa meter dari lokasi semula.
Hendrizal, warga Pasapuat mengatakan dusun hanya ramai di siang hari, malam mereka—terutama perempuan dan anak-anak—kembali ke pengungsian.
“Kami turun untuk memantau apakah ada bantuan atau tidak, malam kami kembali ke pengungsian, karena rumah-rumah tak ada lagi, semua rusak, kalau ada yang masih utuh jumlahnya tak seberapa, itupun sudah kotor bekas tsunami,” kata bapak dua anak ini galau.
Bantuan Surfaid
Di Pasapuat Surfaid International mendistribusikan bantuan berupa 70 paket shelter kit (terpal, tikar, selimut, tali), 20 building kit (cangkul, sekop, palu, golok, gergaji, kapak, batu asahan, sendok semen, tang), dan 20 hygiene kit (sabun, tempat sabun, ember, gayung, sikat gigi, sikat cuci, odol). “Kami tak mendistribusikan makanan dan minuman, karena item itu sudah sangat banyak di Sikakap, tinggal mendistribusikan saja,” kata  Jati Kumoro, Monev (Monitoring dan Evaluasi) Officer Surfaid pada Puailiggoubat di Kapal Hoey yang disewa Surfaid International untuk mendistribusikan bantuan sejak Selasa (27/10). ran
Tumalei Diamuk Badai, Bantuan Terpaksa Dibatasi
SILABU—Kondisi Dusun Tumalei dan Gogoa, Desa Silabu Senin (1/11) sungguh kacau. Kedua dusun itu terperangkap badai dengan angin berkekuatan 39 knot. Warga yang berkumpul menunggu bantuan di bekas reruntuhan rumah mereka terpaksa menghapus harapan, karena pendaratan bantuan tidak mungkin dilakukan dalam badai yang menimbulkan gelombang setinggi 3 – 4 meter.
“Ini riskan sekali, kita terpaksa tak bisa maksimal menurunkan bantuan,” kata Jati Kumoro, Monev (Monitoring dan Evaluasi) Officer Surfaid International Senin (1/11) di kapal surfing Huey milik Kapten Sully yang disewa Surfaid untuk mendistribusikan bantuan sejak Selasa (27/10).
Gara-gara amukan badai tersebut, tim Surfaid yang turun ke darat hanya Tom Plummer dan dua ABK Huey yakni Ramon dan Enon. Mereka juga tak bisa membawa banyak bantuan karena tak menggunakan boat layang Serigala yang sengaja dibawa untuk tujuan tersebut, sebab pilihan paling mungkin hanya perahu karet. Itupun tak bisa bolak-balik seperti yang sebelumnya dilakukan di Pasapuat, karena keadaannya benar-benar riskan.
Kapal harus berhenti di tengah teluk yang bergelora dan perahu karet harus meniti gelombang sejauh kurang lebih 500 meter ke pantai agar dapat menyalurkan bantuan.
Alhasil, dengan situasi dan kondisi semacam itu, Surfaid hanya bisa mengantarkan sekarung beras, 20 lembar kelambu,  dan satu terpal ukuran 6 X 10 meter. “Mudah-mudah bisa membantu untuk sementara,” kata Tom sepulangnya dari Tumalei.
Di Dusun Tumalei tsunami hanya membunuh satu orang yang sedang tertidur di ladang karena kecapean seharian mencari manau saat bencana dahsyat itu berlangsung, tapi semua bangunan di dusun berpenduduk 45 KK atau 197 jiwa tersebut  lenyap menjadi puing dan reruntuhan karena terjangan tsunami saat berbalik kembali ke laut.
Sampai Senin (1/11) warga Tumalei baru mendapat bantuan dari Surfaid International, TNI, PMI dan Surfaid lagi. “Apa yang paling mereka harapkan selain makanan dan minuman? Rokok, gula dan kopi! Rokok yang dikirim Kapten Sully—Kapten Kapal Huey—disambut antusias, bahkan nyaris berebutan,” ujar Tom.
Dari Tumalei dan Gogoa, Huey melanjutkan peejalan ke balik Pulau Silabu untuk menghindari badai dan berlindung di situ sampai badai reda. ran
Orang-orang Tumalei
TUMALEI–Pagi  Selasa (2/11) Tim Surfaid kembali ke Tumalei dan Gogoa untuk menyalurkan bantuan yang sudah dialokasikan, tapi badai masih mengancam karena gelombang masih besar dan angin masih kencang, sementara hujan juga turun tak berkeputusan.
“Kalau di balik Pulau Silabu saja gelombang besar begini, tak terbayangkan besarnya di laut lepas sana,” kata Ramon, ABK Huey.  Namun bantuan tetap harus diantarkan, maka di tengah hantaman angin kencang, gelombang besar dan hujan lebat, kapal surfing Huey milik Kapten Sully bergerak lagi ke Tumalei sekitar pukul 08.00 WIB.
Bantuan diturunkan ke boat layang Serigala, tim yang terdiri dari Jati Kumoro (staf Surfaid), Jendi Sakarebau, Bani dan Imran Rusli dari Puailiggoubat turun untuk mengkoordinasikan cara penurunan bantuan yang terdiri dari 20 paket shelter kit (terpal, tikar dan lain-lain), 40 lembar kelambu, 20 unit cocking kit (panci, periuk, penggorengan, sendok, piring, gelas)  dan 12 karung beras yang masing-masingnya berisi 30 kilogram.
“Sebenarnya kita sudah ke sini Rabu (27/10) lalu, waktu itu kami hanya bisa memberikan tikar dan terpal karena paket bantuan belum datang dari Padang,” kata Ridwan, SCF (Senior Community Fasilitator) yang kini bertugas sebagai pengatur logistik dalam masa tanggap darurat emergency response) di kapal surfing Huey.
“Kemarin, Senin (1/11) hanya bisa menurunkan  1 karung beras isi 30 kilogram, satu terpal dan 20 lembar selimut,” tambah Ridwan.
Terima kasih Tapi…
Bantuan kemudian diturunkan, warga Tumalei ikut menjemput dengan boat manau milik warga Taikako yang sedang mencari manau di Gogoa. “Kalau sampan dan boat kami sudah habis semua, milik kepala dusun saja hilang dengan mesin-mesinnya 2 unit,” kata Tialmanus Siritoitet (40), salah seorang warga. “Boat orang Taikako itu untung saja tidak pecah,” tambah Tialmanus yang didampingi warga lainnya Amris Sakerebau (25).
Tialmanus mengatakan bantuan baru masuk dari Surfaid, TNI dan PMI berupaka makanan, terpal, selimut, kelambu dan bermacam peralatan seperti  cangkul, sekop, gergaji, palu, tang, sendok semen, dan lain-lain. “Sayang tak ada paku, jadi kami tidak tahu bagaimana menggunakan alat-alat itu,” katanya.
Dia juga mengeluhkan bantuan pangan yang dikatakannya tidak cukup. “Paling kami kebagian setekong seorang, maklum hanya dapat sisa-sisa bantuan dari daerah lain,” katanya lagi. “Kami juga butuh obat-obatan, maag saya kambuh karena makan susah di pengungsian,” katanya.
Menurut Tialmanus, warga Tulalei yang berjumlah 45 KK atau sekitar 197 jiwa kini mengungsi di perbukitan . “Siang kami turun ke perkampungan, malam naik lagi, karena kuatir bakal ada gempa dan tsunami lagi,” katanya.
“Lagipula, tak ada lagi rumah yang bisa ditempati, gereja saja sudah rata dengan tanah, tinggal ubinnya saja, tiga kedai yang ada di sini juga sudah lenyap, kemarin anak saya minta teh manis, saya tak tahu harus jawab apa,’ katanya.
“Rumah saya juga sudah hanyut ke  arah laut, kalau tak ada pohon mungkin rumah saya sudah hanyut dan tenggelam di laut, ada sekitar 500 meter rumah saya pindah dari tempatnya semula,” katanya.
Samuel Siritoitet (45), kakak Tialmanus, mengatakan kedai dan rumahnya sudah lenyap. “Rumah saya hanyut sampai 300 meter dibawa air, lalu dibantingnya ke sudut kampung, benar-benar mengerikan,” katanya.
Listrik dan jalan juga Lenyap
Selain kehilangan rumah dan gereja, warga Tumalei juga harus rela kehilangan jalan P2D dan listrik tenaga surya. “Kami kehilangan jalan P2D sepanjang 300 meter padahal baru dua tahun punya jalan. Kami juga kehilangan 45 unit listrik tenaga surya sumbangan Kortanius Sabeleake, padahal baru dua tahun menikmati listrik sudah diambil lagi,” kata Tialmanus.
Listrik cadangan dari genset kepala dusun juga sudah tak bisa lagi diharapkan. “Gensetnya sudah remuk diamuk tsunami,” kata Tialmanus sambil menunjukkan genset merk Don Feng itu. Mesin yang sudah banyak berjasa itu kini teronggok belepotan lumpur dan karat.
Kisah Jesni
Ada rumah yang masih selamat di Tumalei, yakni rumah Jesni, sukunya lupa karena tak dicatat. Rumah ibu empat anak ini terletak agak ketinggian di kaki Bukit Tumalei. Waktu tsunami melanda dusun suaminya sedang mencari manau ke Gogoa.
“Jadi 15 menit setelah gempa, suara gemuruh air laut terdengar dari bawah, orang-orang berteriak tsunaminya sudah datang,  tsunaminya sudah datang, saya langsung gendong anak terkecil, membimbing kakaknya dan menyuruh anak yang paling besar membimbing adiknya. Kami terbirit-birit ke bukit, tidak lama bunyi berdentum terdengar dan kampung sudah jadi genangan air yang bergejolak, sebelum akhirnya surut lagi ke laut,” papar Jesni panjang lebar.
Karena rumah Jesni tidak rusak dan alat-alatnya masih lengkap, warga di pengungsian bisa bertahan dengan makanan seadanya, rebus pisang dan singkong bakar. “Ada juga warga yang sempat membawa korek api dan mancis, kita bisa masak air, makan  pisang dan ubi rebus,” kata Samuel Siritoitet.
Tatkala Surfaid datang Rabu (27/10) mereka sudah bisa tidur di tenda berkat terpal, tali, tikar dan selimut yang diantarkan. Saat TNI dan PMI datang Minggu (31/10) mereka sudah bisa makan nasi dan punya tenda yang lebih luas karena TNI datang membawa beras, tenda, tikar, selimut, PMI membawa bantuan serupa.
”Hari ini Surfaid datang lagi membawa beras, alat-alat masak, alat-alat untuk membangun rumah, terpal, selimut, kelambu dan lain-lain, kami tambah tertolong, terima kasih Pak bantuannya,” kata Jasni sambil terus memeluk anak-anaknya.
Tapi masih ada satu pertanyaan ibu ini yang tidak bisa dijawab. “Apakah aka nada gempa dan tsunami lagi Pak? Kami ngeri.” ran
Properti Makarono Resort Bertebaran di Silabu
SILABU-Properti milik Makaroni Resort, salah satu resort di Dusun Silabu, Desa Silabu, Kecamatan Pagai Utara, yang berantakan diterjang tsunami Sabtu (25/10) malam, bertebaran di pantai-pantai dan rumpun bakau Silabu.
Properti seperti spring bed, lemari, meja, kursi, jet sky, papan selancar (surfing board) dan banyak lagi bertebaran seperti sampah lapuk. Barang-barang kualitas hotel bintang lima itu sebagian dipungut masyarakat Silabu dan dibawa ke rumah masing-masing.
Jendi Sakarebau, warga Dusun Maguiruk, Desa Silabu mengatakan, sebagian properti milik Makaroni Resort itu sudah ditebus kembali, seperti  jet sky. “Jet sky umumnya sudah ditebus kembali, tapi benda-benda lainnya dibiarkan saja karena rata-rata memang sudah rusak dan tak mungkin lagi digunakan di resort, termasuk papan surfing yang sudah compang camping,” kata Jendi yang mengaku tidak tahu berapa pihak Makaroni Resort harus menebus jet sky tersebut Senin (1/11) di Kapal surfing Huey yang berlindung dari amukan badai di balik Pulau Silabu.
Ikut berlindung bersama Huey, satu kapal tonda penangkap ikan dan kapal surfing Oasis yang membawa beberapa orang surfer dari berbagai negara. ran
Duka Tersemai di Maonai
MUNTEI BESAR—Bahwa Dusun Maonai, Desa Bulasat, Pagai Selatan merana akibat gempa dan tsunami Senin (25/10) semua orang mungkin sudah tahu, tapi bagaimana 48 warga dusun itu tewas dan 5 hilang tidak banyak yang tahu ceritanya. Dari Kepala Dusun Maonai, Jonathan Samaloisa Sabtu (30/10) Tim Surfaid International mendapatkan ceritanya dan membaginya dengan Puailiggoubat Minggu (31/10) di kapal Huey yang digunakan Surfaid untuk mendistribusikan bantuan ke lokasi-lokasi bencana di pagai Utara dan Pagai Selatan sejak Selasa 927/10).
Menurut Jonathan, sesaat setelah gempa pertama (Sabtu 25/10 sekitar pukul 22.00 WIB—data BMKG pukul 21.42 WIB)—sebagian warga langsung berlarian di jalur evakuasi menuju tempat pengungsian di perbukitan belakang kampung. Sebagian lagi lari kea rah yang berlawanan menuju bukit yang sama, yang sedikit lebih jauh.
Kelompok pertama yang lari kea rah kanan yang dekat muara  sungai tak bisa meneruskan pengungsian karena ternyata air laut sudah masuk via muara dan menggenangi kedua sisi sungai. Kelompok yang berjumlah 48 orang itu kembai ke tengah perkampungan dan berlindung dalam gereja.
“Ternyata Tuhan berkehendak lain, gelombang tsunami mengerjang gereja GKPM tersebut sampai rata dengan tanah dan semua warga yang berlindung dan berdoa di dalamnya tewas semua,” kata Jonathan.
Kelompok warga yang mengambil jalur kiri, bisa selamat karena jalur mereka berada di hulu sungai, di mana air laut belum masuk atau terjangannya sudah melemah. “kami selamat sampai ke bukit, tapi saudara-saudara kami itu tidak,” katanya.
Kisah itu dikuatkan Kortanius Sabeleake, mantan Ketua DPRD Mentawai yang tiba bersama Tim posko Lumbung Derma dengan boat layang di Maonai Jumat siang (29/10) dan kembali ke Sikakap Sabtu (30/10) siang.
“Waktu kami datang tak ada seorang pun di kampung, ternyata semua berkumpul di pengungsian di bukit. Hanya tatapan kosong yang menyambut kami, semua orang sangat terpukul dan trauma kayanya. Bahkan ketika saya senrtuh mereka tak bereaksi, baru setelah 45 menit ada gerak tangan membalas genggaman saya, selanjutnya tangispun pecah, mereka meratapi anak, istri, suami, cucu, ayah, ibu, menantu, nenek, kakek, adik, kakak semuanya,” ungkap Korta yang mengaku juga tak bisa menahan air mata.
Disuruh Jemput Sendiri
Derita yang begitu pedih, ternyata tak mendapat simpati dan empati apapun dari orang-orang di Posko Bantuan Utama Sikakap. Jumat pagi ketika Jonathan datang ke Sikakap menumpang boat dari dusun tetangga untuk minta bantuan, dia hanya disambut dingin oleh orang-orang sibuk di posko yang terletak di Kantor Camat Sikakap itu.
“Mereka bilang saya harus menjemput sendiri bantuan ke Sikakap, karena mereka tak punya armada untuk mendistribusikan bantuan, juga mereka menguatirkan badai, gelombang besar, angin kencang dan sebagainya, tak ada operator yang berani dan seterusnya dan seterusnya, perew! Apa mereka tidak lihat keadaan kami? Sampan dan boat kami sudah tak ada, pinjam boat tetangga mana minyaknya? Operator juga tak ada, kondisi sudah lemah semua karena sudah 4 hari tidak makan dan kurang minum, itu kan gila!” umpatnya.
Terluka oleh sikap orang-orang di Posko Utama Kecamatan, Jonathan dan beberapa  orang kampungnya kembali dengan tangan kosong ke Maonai. “Untung sudah ada bantuan dari Korta dan Surfaid, kami bisa sedikit mengganjal perut dan mengumpulkan kekuatan guna menyelamatkan anak-anak, ibu-ibu, para wanita yang masih hidup,” katanya. ran
Muntei Besar Berbagi Beban
Dusun Muntei Besar, Desa Malakopak, Pagai Selatan memang tak terlalu parah dihajar tsunami, tapi mereka kebagian beban yang tak kalah besar, yakni harus menampung pengungsi dari Dusun Purourougat, Desa Malakopak,  yang luluh lantak oleh tsunami. Ada 112 jiwa warga Purourougat yang kini menumpang hidup di Muntei Besar. Maka semuanya pun harus dibagi dengan tetangga-tetangga yang kemalangan tersebut.
Imran Rusli
Wajah Kepala Dusun Muntei Besar Menason Saleleubaja,  terlihat letih ketika Tim ER (Emegency Response) Surfaid international tiba di rumahnya Minggu (31.10).
“Maafkan kami Pak, sudah letih karena repot sejak Senin malam,” katanya.
Senin malam? Malam sesudah gempa maksudnya?
“Benar Pak, malam kejadian puluhan warga Purourougat sudah datang secara bertahap ke Muntei Besar. Kami tampung seadanya, meski  kami juga lumayan repot dengan warga Muntei Besar sendiri yang semuanya pindah ke pengungsian di gunung belakang kampung,” ungkapnya lagi.
“Mereka datang di tengah malam, laki-laki, perempuan, tua, muda, anak-anak, remaja, sampai bayi mencari tempat berlindung, padahal kami juga menglalami bencana yang sama,”tambah dia.
Malam itu juga, Menason mengkoodinir aparatnya untuk mengurus 178 jiwa warganya dan 112 jiwa pengungsi dari Purourougat.
“Tapi kami kewalahan juga, apalagi tak ada tenaga medis di kampung, satu pengungsi yang sedang hamil akhirnya meninggal karena perdarahan,” katanya.
Selasa (26/10) pagi sebelum sarapan, Menason mengumpulkan warga di bagian dusun yang selamat dari amukan tsunami. “Tsunami  juga menghajar kampung kami sampai 1 kilometer ke darat, tapi karena tidak banyak pemukiman dekat pantai masih banyak rumah yang selamat, jadi kami masih bisa berkumpul mengatur rencana,” kata kepala dusun yang rumah orang tuanya sudah rata dengan tanah diterjang tsunami setinggi kurang lebih 3 meter tersebut karena berada di tepi pantai.
Pagi selasa itu Menason mengkoordinir para pemuda dan stafnya untuk menyisir seluruh pelosok kampung, mencari korban. “Setelah dihitung warga kami selamat semua, tapi siapa tahu ada korban kiriman dari dusun lain, dari purourougat atau Eruk Paraboat misalnya,” katanya.
“Saya buat barisan penyisir setiap 5 meter, dan kami maju perlahan kea rah pantai. Hasilnya sampai Sabtu (30/10) masih ada korban yang kami temukan,” ungkapnya.
Selain mengatur pencarian korban yang selamat atau sudah meninggal, makan minum warga dan pengungsi, mengurus pelaporan ke Sikakap dan mencari bantuan ke lokasi terdekat, Menason juga mendokumentasikan hasil kerja warga dusunnya.
“Mayat yang ditemukan kami kumpulkan di tengah dusun dan diidentoifikasi sebelum dikuburkan, adanya warga Purourougat di Muntei Besar membuyat proses identifikasi agak lancer, meski ada juga mayat yang tak bisa dikebali karena rusak terbanting-banting,” katanya. Maklum tsunami yang melanda Malakopak dan sekitarnya bukan Cuma meluncurkan air laut, tetapi juga melontarkan bebatuan dari dasar laut atau menerjang yang ada di bibir pantai.
“Yang selamat kami bawa ke pengungsian,” katanya sambil memperlihatkan foto-foto yang diambilnya dengan kamera poket digital.
Sayang foto-foto tersebut tak bisa dipindahkan karena Puailiggobat dan Surfaid tak membawa turun flash disc, soalnya tak ada yang menyangka ada kepala dusun yang cara kerjanya sudah sistematis dan terarah begitu.
Bantuan
Tentang bantuan, Menason yang didamping dua sataf logistiknya yakni Andi dan Karyaman Saogo—mantan staf Surfaid dalam program pencegahan malaria atau Malaria Programme Surfaid International tahun 2007—Menason langsung gusar.
“Bantuan yang kami terima baru hari ini. Itupun datangnya dari LSM dan lembaga-lembaga swasta seperti SLA (Swiss Labour Assistance), ESDM PT Timah dan Surfaid International, dari pemerintah kabupaten sama sekali belum. Padahal saya dengar bantuan dari berbagai pihak sudah menumpuk di Sikakap, meeka hanya tinggal menyalurkan tapi tidak disalurkan!” ujarnya berang.
“Ketika presiden datang ada TNI mengirim mie instan dan sedikit beras, itulah bantuan yang kami terima, selebihnya tidak ada, sampai hari ini,” katanya lagi.
“Kalau sampai hari ini tak ada bantuan masuk, kami pasti kelaparan, karena cadangan makanan sudah habis. Obat-obatan tidak ada, tenaga medis apa lagi, bisa-bisa warga saya dan pengungsi mati kelaparan atau sakit,” katanya geram
Ketika diberitahu bahwa Kepala Dusun Maonai disuruh menjeput sendiri bantuan ke Sikakap, Menason tambah berang. “Apa-apaan mereka, ke mana akan kami cari speedboat, rata-rata boat dan sampan orang di sini sudah hancur, belum lagi BBM-nya siapa yang akan menanggung, dari mana kami dapatkan? Sebenarnya ada niat membantu atau tidak? Kalau begitu caranya mending tak usah bantu saja, tapi itu kan bantuan yang mesti disalurkan, bukan barang nenek moyang mereka!”
Laku diceritakannya kejadian pada hari kedua pasca bencana. “Selasa kalau tidak salah, saya dan warga mencegat dua pejabat dari kecamatan. Mereka bilang mau mendata, saya bilang data apalagi Pak? Bawa saja beras, terpal, selimut, kelambu, obat-obatan, lauk-pauk, itu yang kami butughkan, bukan  omong kosong para penonton!” dengusnya sebal.
Kini dia mengaku lega, paling tidak sudah banyak bantuan yang masuk dan terus mengalir, sayangnya bukan dari yang paling bertanggungjawab menyalurkan. “Kalau mereka beralasan badai atau tak punya armada, kok orang-orang swasta dan TNI bisa? Apa mereka tak bisa menumpangkan bantuan untuk kami ke mereka?” sergahnya masih dengan nada tinggi.***
Hantaman Telak di Dada Erkadius Samoilailai
TUMALEI—Bencana gempa dan tsunami Senin (25/10) malam memukul telak dada Erkadius Samoilalai (52). Mantan karyawan PT MPLC (Minas Pagai Lumber Corporation) asal Dusun Taikako, Desa Taikako, Kecamatan Sikakap ini, betapa tidak bencana kali ini merenggut 4 nyawa orang dekatnya sekaligus dan mencederai satu orang yang paling disayanginya.
Anak, menantu, dua cucu dan besannya tertimpa musibah dahsyat tersebut saat berada di Dusun Gogoa, Desa Silabu, Kecamatan Pagai Utara mencari manau.
“Jasad cucu perempuan saya, usia 2 minggu dan besan perempuan saya sudah ditemukan, bahkan bernama pun belum cucu saya itu. Cucu perempuan saya lainnya, desi, usia 2 tahun dan ayahnya—menantu saya Oging—sampai hari ini belum ditemukan, saya telah 4 hari mencari mereka di Gogoa dan Tumalei, tapi tak ditemukan juga,” katanya Selasa (2/11) di kapal surfing Huey yang mendistribusikan bantuan Surfaid International ke Dusun Tumalei, Desa Silabu, Pagai Utara.
“Anak saya sendiri, Rosdiana (22) selamat meski terluka parah karena sempat digulung tsunami dan dibenturkan ke pohon-pohon dan semak belukar, TNI telah membawanya dengan heli ke Sikakap, katanya ke gereja GKPM yang kini difungsikan sebagai rumah sakit,” katanya,
Erkadius sendiri datang dari Taikako Sabtu (30/10). “Saya menumpang heli TNI AD ke Gogoa, saya temui komandannya dan minta ikut ke Gogoa mencari anak, cucu, menantu dan besan saya, mereka izinkan,” katanya.
Mantan karyawan PT MPLC yang pernah bertugas di Papaua Niugini, Sarawak dan Kepulauan Solomon ini kemudian tinggal di Gogoa untuk mencari cucu dan menantunya yang masih hilang, sementara anaknya Rosdiana dan jasad cucunya yang belum bernama serta mayat besan perempuannya dibawa dengan heli ke Sikakap Sabtu itu juga.
“Sudah empat hari saya mondar-mandir Gogoa Tumalei, tapi mereka tak saya temukan, hari ini saya berencana pulang ke Taikako, untung bertemu Surfaid di sini, saya tak perlu jalan kaki lagi ke Gulukguluk atau Silabu,” katanya pada Puailiggoubat.
Menurut Erkadius, pengungsi di Gogoa tinggal 5 KK, “Sisanya telah pindah ke Gulukguluk, ” katanya. Saat turun di Muara Taikako Selasa sore, Erkadius mengatakan akan pulang dulu, lalu menjenguk anaknya ke GKPM Sikakap. “Saya bahkan belum tahu kondisinya, apakah masih bhidup atau sudah meningggal pula mengingat kondisinya yang parah saat ditemukan,” katanya dengan mata yang gamang. ran
Bantuan Masih Menumpuk di Sikakap
SIKAKAP—Sampai Rabu (3/11) bantuan masih menumpuk di Sikakap, sebagian dibagikan ke masyarakat setempat yang notabene bukan korban tsunami.
Pemkab masih bertahan dengan alasaln klise bahwa  bantuan tak bisa didistribusikan karena cuaca tak memungkinkan, armada terbatas, dan relawan kurang, terutama untuk menjadi operator boat dan lain-lain.
Alasan ini sebenarnya tak bisa dipakai lagi, karena terbukti banyak sekali kapal-kapal NGO, PMI dan TNI yang sampai ke lokasi dan mendistribusikan bantuan.
Bantuan dari Posko Lumbung Derma misalnya, sudah sampai ke Maonai dan Purourougat. “Hari ini kami akan distribusikan lagi beras, sarden, alat-alat masak, tikar, terpal dan lain-lain he Eruk Paraboat, kita hanya menggunakan boat kayu biasa dengan mesin 40 pk,” kata Kortanius Sabeleake, Rabu (3/11) di Posko Lumbung Derma Peduli Gempa Tsunami Mentawai di Masabuk, Sikakap.
Bahkan sejak Kamis (28/10) Korta sudah melakukan assessment Pagai Utara, meliputi Pasapuat, Mapinang, Mabulaubugei, dan lain-lain, sementara Jumat (29/10) Korta sudah membawa bantuan ke Maonai dan Purourougat meski sedikit.
“Kami menggunakan boat layang bermesin 40 pk, hanya bisa mengangkut 200 kiliogram, baru hari ini kami bisa menggunakan lebih banyak boat, tapi ya tetap saja kecil-kecil dibanding kapal-kapal dan boat Pemda,” kata Korta,
Menurut mantan Ketua DPRD Mentawai ini Pemkab punya 18 – 20 unit boat bermesin 80 pk, bahkan yang 200 pk, 400 pk dan 800 pk juga ada, tapi mengapa tak kunjung dibunakan untuk mendistribusikan bantuan?
Alasan cuaca buruk, badai, gelombang besar dinilai Korta hanya akan menyakiti hati para korban yang selamat dan bertahan di pengungsian, karena hampir setiap hari mereka menerima kedatangan NGO, LSM, PMI, , gereja dan TNI. “Cuaca butuk hanya alasan saja agar bantuan tetap di Sikakap, buat dibagi-bagi sesama mereka saja,” kutuk Kaharuddin Nasution, warga Pasapuat, Saumanganya, Pagai Utara di Pasapuat Senin (1/11).
“Pemda sungguh biadab, membiarkan kami kelaparan dan terlantar, padahal bantuan sangat banyak di Sikakap,” ujar  Tialmanus Siritoitet, warga Tumalei, Bulasa, Pagai Utara. “Mereka ingin mengangkangi bantuan itu sendiri seperti tahun 2007 dulu!” tambahnya geram ketika ditemui di sisa-sisa dusunnya Selasa (2/11).
Kegusaran yang sama dilontarkan Kepala Dusun Muntei Besar, Malakopak, Pagai Selatan Menason Saleleubaja. “Kalau memang tak berniat membantu ya tak usah berdalih macam-macam,” kata kepala dusun yang rumahnya sudah tiga kali hancur diamuk gempa saat dijumpai di rumahnya Minggu (31/10). Menurut dia alasan tak ada kapal, badai dan lain-lain itu cuma alasan dari para pemimpin yang tak bertanggungjawab saja. “Buktinya LSA, PT Timah dan Surfaid sampai di sini, memangnya mereka datang pakai apa?!” katanya ketus.
Dibagikan ke Non Korban
Sebenarnya bantuan yang mereka terima di Posko  Utama Satkorlak Kecamatan Sikakap bukan tak disalurkan sama sekali.  Dibagikan tapi asal terbagi saja, yakni untuk warga Sikakap yang notabene bukan korban tsunami seperti mereka yang menjadi korban di Pagai Utara dan Pagai Selatan.  Hanya untuk konsumsi media, agar terberitakan juga bahwa bantuan sudah didistribusikan, meski hanya ke warga yang berada di halaman posko pemerintah  daerah itu
Memang, rumah-rumah warga Sikakap sempat juga kena dampak tsunami berupa luapan air laut yang menggenangi rumah mereka setinggi satu meter. Tapi genangan air itu tak membunuh, atau merusak, hanya menggenangi.
“Kini hampir tiap rumah di Sikakap ada beras bantuan paling tidak 2 karung, belum indomie dan air mineral,” kata seorang warga yang enggan menyebut nama,. “Ada pula partai politik yang curang, meminta bantuan ke posko utama , lalu mendistribusikan atas nama partainya , mereka tempel bantuan tersebut dengan stiker partainya, benar-benar tak bermoral dan tak bermodal,” tambah warga Sikakap yang mengaku tak ikut-ikutan mengambil atau meminta bantuan ke posko utama tersebut geram.
Ada pula partai politik yang memilih mendistribusikan bantuannya di Sikakap saja. “Alasannya daripada tak bergerak dan membusuk di gudang Pemkab,” ujar Edi, warga Sikakap yang ikut sibuk mengangkat-angkat bantuan dari pelabuhan ke Posko Kecamatan Sikakap.
Ada pula partai politik yang membagikan  bantuan untuk orang tertentu saja. Orang-orang yang ingin bantuan—korban atau tidak—diminta datang ke posko mereka, setelah menyerahkan foto copy KTP, mereka mendapat sekarung beras atau sekardus indomie.
“Kalau yang itu jelas, motivasinya bukan untuk membantu korban bencana, tapi memperbesar dukungan terhadap partai, saya kira kita patut bertanya apakah cara-cara seperti itu pantas dalam suasana musibah seperti ini, “ ujar Korta.
Maryati (55), warga Masabuk, Sikakap, mengaku malu dengan ulah Pemkab, “Saya rela tak mengambil bantuan tersebut meski rumah saya tergenang air laut sampai semester dan diterjang kayu, asal korban yang benar-benar parah kondisinya di pulau-pulau tersebut dibantu, distribusikan sajalah bantuan dari berbagai pihak itu, kasihan mereka tak punya apa-apa, ini kan sudah hari ke-8!” katanya.
Penyumbang Kesal
Lambatnya pendistribusian bantuan juga telah membuat berang Gubernur Sumbar Irwan Prajitno. Saat datang ke Sikakap dalam rangka peresmian huntara  (hunian sementara) di Muntei Baru, gubernur meneyentil kinerja Satkorlak yang lelet itu.
Para penyumbang juga kesal. Seorang relawan di Posko Lumbung Derma Masabuk mengatakan Bank Artha Graha sempat gusar. Bantuan yang mereka serahkan tak kunjung beranjak dari gudang Pemkab. “Mereka khirnya memilih jalan darat untuk menyerahkan bantuan ke Pagai Selatan,” kata relawan tersebut.  Meski untuk itu mereka habis dipalak warga yang juga tak punya empati untuk sesamanya yang kena musibah.
“Mereka dimintai Rp10 juta untuk menyeberang dari Sikakap ke Pagai Selatan, benar-benar tak peduli orang-orang itu minta imbalan jasa seperti itu padahal orang-orang Artha Graha itu kan mengantar bantuan,” katanya lagi dengan nada prihatin. ran
Sukarelawan atau Sukalerawan?
SIKAKAP—Rabu (3/11) sore KRI Teluk Manado kembali tiba di  Sikakap. Kapal perang ini membawa puluhan relawan baru. Kedatangan para relawan ini menjadi buah bibir sekaligus cibiran masyarakat Sikakap.
“Untuk apa mereka datang, kalau hanya mondar-mandir dan berfoto-foto di Sikakap?” kata Maria Siregar, warga Sikakap yang mengaku gerah melihat tingkah polah para relawan di desanya.
Menurut Maria, seharusnya para relawan itu menuju lokasi bencana dengan kapal-kapal , speed boat dan angkutan apa saja yang tersedia untuj membantu pemulihan keadaan di sana, atau kalau memang tidak bisa ke lokasi lakukan apa saja untuk membantu pendstribusian atau melakukan sesuatu yang berguna di tempat-tempat yang membutuhkan.
“Di Sikakap misalnya mereka bisa bantu warga memeperbaiki rumah yang rusak tergenang air laut, bantu maku-maku kek atau membersihkan puing-puing dan kayu yang berserakan, merapikan pagar atau apalah, daripada hanya duduk-duduk, tiduran, main domino, petantang-petenteng dalam kampung, atau mybdar-mandir tak keruan, banyak yang bisa dikerjakan di sini kalau memang niat,” katanya.
Syafriati, warga Masabuk, Sikakap, mengutarakan pendapat serupa. “Rumah saya rusak dapurnya, wC saya hanyut, dan kayu yang disusun di belakang rumah porak-poranda digusur air, apa salahnya kami dibantu di sini kalau memang relawan itu tak bisa ke lokasi karena tak ada transportasi,” kata janda beranak lima ini di rumahnya Rabu (3/11).
“Paling tidak bantu saya membangun WC kembali karena saya sudah tua, tidak kuat lagi mengerjakannya sementara anak-anak yang besar tengah merantau ke Jakarta, sejak air laut naik dan merusak WC kami, buang air besar kini menjadi  masalah tersendiri setiap hari, ” katanya lagi.
Mengikis Bantuan
Kehadiran para relawan di Sikakap tak membuat warga Sikakap senang, kecuali bagi para pedagang yang jualannya dibeli . Keluarga korban yang menunggui kerabatnya yang cedera di rumah sakit dadakan GKPM Sikakap termasuk yang sebal.
“Untuk apa mereka ke sini kalau takkan membantu?” ujar Jeremiah, warga Puruorougat, Malakopak, Pagai Selatan, yang sedang menunggui saudaranya yang terluka parah dan dirawat di GKPM Rabu (3/11).
“Mereka ke sini hanya untuk menonton penderitaan orang, kesibukan di posko-posko bantuan, melagak-lagakkan seragam atau atribut yang dikenakan, menikmati angkutan dan makanan gratis, naik kapal perang tanpa bayar atau kalau perlu naik helikopter gratis, mereka anggap apa bencana ini? Mereka anggap apa duka dan penderitaan kami!?” sergahnya sebal.
“Mereka pasti mengakibatkan berkurangnya jatah bantuan, karena mereka toh harus diberi makan juga, harus diberi minum juga, harus tidur juga, berapa banyak beras,m ie, gula, the, kopi, rokok, tikar, terpal dan selimut bantuan yang harus diberikan untuk  mereka? Kalau membantu ya tak apalah, kalau hanya datang untuk jalan-jalan dan menikmati jatah makan orang, apakah itu pantas?” ruutuknya kesal]..
Sejak bencana gempa dan tsunami meluluhlantakkan desa-desa dan dusun-dusun di pantai barat Pagai Utara, Pagai Selatan dan Sipora Selatan Senin (25/10) malam, sudah hampir 8.000 relawan keluar masuk Sikakap. Sayang tak sampai 1.000-an yang benar-benar berbuat untuk masyarakat di lokasi bencana, yang lain hanya sibuk dengan diri dan kelompoknya sendiri.
Mereka gampang dikenali. Senang bergaya di setiap sudut kampung, berfoto ria di mana saja, ketawa-ketiwi tanpa perasaan, termasuk dekat rumah sakit darurat di mana para korban yang selamat terbaring lemah, atau sibuk kongkow-kongkow di depan posko, ada juga yang cuek main domino.
“Yang benar-benar relawan langsung bekerja melakukan apa saja, termasuk jadi kuli angkat di kapal-kapal pembawa bantuan, jadi buruh pembuka jalan, atau ikut rombongan distributor bantuan untuk membagi-bagikan bantuan ke korban bencana atau mendirikan tenda-tenda, dapur umum, dan sebagainya  seperti yang sekarang masuk ke kampung kami,” ujar Matheus warga Muntei Besar, Bulasat Pagai Selatan  Minggu (31/10).
“Kami menyebut sukarelawan yang hanya datang untuk pesiar atau bergaya-gaya itu sukalerawan, nama itu saya rasa lebih cocok untuk mereka,” kata Erison, warga Masabuk, Sikakap. Kalera adalah kata umpatan dalam bahasa Minang. Artinya kurang lebih sama dengan brengsek. “Sydah lama saya sebal dengan tingkah polah mereka,” katanya.  ran
Harga Kebutuhan Pokok Merangkak Naik di Sikakap
SIKAKAP—Delapan hari pasca gempa dan tsunami di Mentawai, kebutuhan pokok perlahan-lahan menghilang di Sikakap, yang masih tersisa naik dengan sendirinya mengikuti hokum pasar yang diikuti oleh para pedagang tanpa empati.
“Cabe habis di pasar, telur juga menghilang, sementara gula pasir menyusut dengan cepat, ikan tidak ada karena nelayan masih takut melaut, sementara sarden juga kian menipis,” kata Desi, pemilik kedai di Masabuk, Sikakap, Rabu (3/11).
Alex Zalukhu, pedagang lainnya, mengatakan stok di tokonya juga berkurang. “Masalahnya transportasi dari Padang dilarang membawa barang-barang pedagang, mereka diminta memprioritaskan pengangkutan bantuan dalam masa tanggap darurat yang lamanya 14 hari itu. Saya juga tak bisa menambah barang dagangan, untung stok cukup banyak,” kata salah satu pedagang besar di Sikakap tersebut Selasa (2/11) malam di tokonya yang terletak di depan gereja GKPM Sikakap.
Penyebab lain kelangkaan bahan pokok adalah banyaknya sukarelawan dan penyumbang bantuan yang sengaja datang ke Sikakap untuk melihat langusng kondisi korban yang dibantunya. “relawan yang jumlahnya ribuan itu kan harus makan, minum, merokok, mandi dan mencuci juga, ada pula yang butuh cukuran, bateray, dan korek api atau mancis, belum lagi cemilan, akibatnya stok barang tak bisa mengimbangi dan menyusut dengan cepat, apalagi tambahan pasokan tidak ada,” kata Alex lagi.
Kelangkaan barang di Sikakap telah memicu kenaikan harga. “Nasi dengan lauk ikan asin dan sarden kini sudah Rp20.ooo sebungkus, sate juga Rp20 ribu seporsi, semua berdalih karena bahan-bahan baku langka,” kata Desrinjois Zalukhu,Koordinator Wilayah YCM Mentawai untuk Sikakap, Pagai Utara dan Pagai Selatan Rabu (3/11) si Posko Lumbung Derma Masabuk, Sikakap.
Tapi lontong sayur dan kue masih stabil pada kisaran harga biasa, “Lontong Rp3.000 per porsi dan roti goreng serta kue mangkuk Rp1.000,” kata Murni, warga Dusun Sikakaop Timur pada hari yang  sama. ran
Surfaid International Distribusikan 3.500 Paket Bantuan ke Mentawai
SIKAKAP—NGO (Non Government Organization atau lembaga swadaya masyarakat) asal Australia dan didanai oleh para surfer (peselancar) dari seluruh dunia mengalokasikan 3.500 paket bantuan selama masa tanggap darurat di Pagai Utara, Pagai Selatan dan Sipora Selatan.
“Bantuan tersebut didistribusikan oleh 6 kapal di empat zona yang selalu dikomunikasikan  dan dibahas lagi setiap hari lewat meeting langsung di Sikakap atau lewat internet dari kapal masing-masing,” kata Tom Plummer, Area Manager Surfaid Internarional di Mentawai.
Kapal-kapal dimaksud adalah Huey, Indies Trader III, Indies Trader IV, Barren Joy, Bidadari dan Mangalui ditambah sebuah kapal cargo, 2 speed boat kayu Simakereg Baga dan satu lagi yang lupa namanya serta 2 boat layang Sibec dan Serigala bermesin ganda masing-masing 115 pk,” tambah Tom di kapal Huey Selasa (2/11) saat berlabuh di Teluk Sikakap.
Semuanya kapal surfing yang disewa oleh Surfaid Internatiobal untuk mendistribusikan bantuan yang mereka terima dari berbagai lembaga dunia seperti Ausaid, NZaid, dan lembaga-lembaga sejenis di Eropa dan Amerika.
“Aktivitas kami sepengetahuan Satkorlak Kabupaten di tuapeijat dan Kecamatan di  Sikakap, kami diizinkan menyalurkan sendiri bantuan dengan cara dan sarana kami, asal melaporkan jumlah armada, jumlah bantuan, jumlah anggota dan relawan yang terlibat dan berada di kapal setiap hari,” tambah Tom.
Kelima kapal ini berbagi zona yang didiskusikan setiap hari, tergantung jenis bantuan yang dibawa, kondisi cuaca dan geografis daerah bencana, serta jumlah tenaga yang tersedia dan ukuran serta tonase kapal. “Hari ini misalnya Huey di Tumalei dan Gogoa, Pagai utara, Indies Trader III di Bosua dan Gobik, Sipora Selatan, Indies Trader IV di Sabeuguggung, Pagai Utara, Mangalui di Purourougat, Maonai dan Sabiret, Pagai Selatan, Barren Joy dan bidadari di Tuapeijat, dan kapal cargo yang merupakan gudang bantuan di Sikakap,” ujar Tom lagi.
5 Paket Bantuan
Menurut Ridwan, staf logistik dan keuangan ER (Emergency Response) Surfaid International  setiap paket bantuan bernilai lebih dari Rp500 ribu. “Kira-kira Rp500 ribulah, karena setiap paketnya terdiri dari 5 item dan belasan sub item,” kata Ridwan di kapal Huey Selasa (2/11).
Jati Kumoro, Monev (Monitoring dan Evaluasi) Officer Surfaid International merinci setiap paket, 5 paket utama adalah SK (Shelter Kit yang terdiri peralatan untuk hunian sementara yakni terpal ukuran 6 X 10 meter dan 4 X 6 meter untuk tenda, tikar, tali, dan selimut); BK (Building Kit atau peraatan untuk membangun kembali rumah terdiri dari cangkul, sekop, gergaji, kapak, palu, batu asahan, tang, parang, dan sendok semen); HK (Hygiene Kit yakni alat-alat kebersihan badam terdiri dari ember, sabun msndi, sikat gigi, odol, gundar cuci, gayung); CK (Cooking Kit yaitu alat-alat masak seperti penggorengan, panci, periuk, sendok goreng, sendok, pisau, piring dan gelas), dan food Item (pangan) seperti beras, mie dan air mineral.
“Kami memang tidak berkonsentrasi pada food item karena asumsi kami sudah banyak yang menyumbangkan, kami memang sengaja memberikan item lain di luar makanan, minuman dan obat-obatan karena yang lain kan juga sudah banyak menyumbangkan item-item tersebut, kami hanya mencoba mencari celah dan perbedaan agar bantuan yang diterima korban jadi sedikit lebih lengkap,” kata Jati.
Dia mengaku tak menyangka kalau bahan-bahan makanan dan obat-obatan yang banyak menumpuk di Sikakap tak tersalurkan pada waktunya sehingga menimbulkan kelaparan dan penyakit di mana-mana.
“Kami disentil di beberapa tempat seperti di Maonai atau Purourougat, mereka bilang kok kami dikasi cangkul dan sekop, memangnya bisa dimakan? Kami lapar Pak, yaah disambut seperti itu kami cuma bisa mengelus dada, meski untuk mendistribusikan bantuan itu kami sudah menyabung nyawa melawan angin kencang dan gelombang besar, karena bagi kami tersalurnya bantuan kepada yang memamg membutuhkan rasanya sudah lebih dari cukup, nasib nasib,” kata Jati sembari tersenyum kecut.
“Di Tumalei, Silabu, Pagai Utara kami juga dikritik karena tak memberi  paku, atau beras, indomie dan air mineral  yang cukup untuk semua orang, mereka menyindir bahwa mereka hanya mendapat bantuan sisa dari tempat-tempat lain sehingga hanya kebagian setekong seorang, mereka juga kesal karena kami masih meminta mereka membantu menjeput bantuan ke kapal dengan boat besar yang kebetulan ada di pantai, biar bantuan bisa sekali angkut serta aman melewati gelobang besar karena mereka toh lebih tahu daerahnya, kami tidak tahu apakah harus sedih atau kecewa dengan sambutan mereka, tapi sudahlah, kami lakukan ini dengan ikhlas, bukan untuk mengharapkan terima kasih,” katanya.
Hunian Sementara
Surfaid International memiliki 32 dusun dampingan di Mentawai. Mereka bergerak di bidang kesehatan masyarakat dan siaga bencana. Dalam musibah gempa dan tsunami 25 Oktober ini dua dusun dampingan mereka, yakni Gobik dan Bosua, Sipora selatan ikut terkena.
“Selanjutnya kami mungkin akan fokus di Gobik dan Bosua dengan program hunian sementara,” ujar Tom Plummer di Tumalei Selasa (2/11). ran
Pemkab Belum Kerahkan Armada
SIKAKAP—Pemkab Mentawai ternyata belum mengerahkan armada yang dimilikinya untuk membantu pendistribusian bantuan. “Baru hari ini mereka akan mengerahkan sekitar 18 – 20 boat yang ada di SKPD-SKPD di Tuapeijat, itupun masih harus menunggu sinyal dari bupati,” kata Kortanius Sabeleake di Posko Lumbung Derma Peduli Gempa dan Tsunami Mentawai Masabuk, Sikakap Kamis (4/11).
Selama ini hanya boat kecamatan yang jalan, kata Korta yang tiap malam ikut rapat koordinasi di Posko Utama Sikakap.
Hasil rapat tadi malam, Rabu (3/11), diputuskan sumber daya NGO dan LSM akan dimanfaatkan untuk mendistribusikan semua bantuan yang kini menumpuk di gudang di Pelabuhan Sikakap. “Bahkan TNI sendiri sangat mendukung, mereka bersedia bekerja di bawah koordinasi kita asal bantuan sampai ke masyarakat yang tertimpa musibah, bukan habis untuk orang-orang yang tak berhak seperti yang sekarang terjadi,” kata mantan Ketua DPRD Mentawai ini.
Seperti diketahui untuk menjawab kritikan media tentang bantuan yang menumpuk dan tak tersalurkan di Sikakap, Pemkab membagi-bagikan bantuan itu ke warga Sikakap, yang notabene bukan korban terparah dari bencana gempa dan tsunami 25 Oktober. Sementara korban yang paling berhak dibiarkan terlantar di pengungsian dengan alasan tak ada kapal, tak ada operator, tak punya relawan yang berani ikut mengantarkan, dan banyak lagi alasan.
Sementara boat-boat dan kapal NGO serta LSM tetap bisa sampai ke lokasi bencana dan mendistribusikan bantuan meski memang harus bersusah payah melewati gelombang besar, angin kecang, serta hujan lebat.
“Kalau memang niat membantu jangan takut basahlah, ini Mentawai bukan Marina Ancol, siapa saja pasti basah di sini apalagi dalam musim badai begini,” tegas Korta.
Kegemasan Korta ini muncul karena  speedboat Pemkab tercatat ada 18 – 20 unit itupun dengan mesian berkekuatan 115 pk ke atas, bahkan ada yang 400 pk, tapi apa daya bupati tak memberi lampu hijau untuk menggunakannya dan para kepala SKPD juga takut mengusulkannya ke bupati. Alhasil bantuan menumpuk dan siap membusuk atau habis dibagi-bagi sesama panitia saja, juga para kerabat dan kroni mereka tentunya. “Sekarang penyimpangan itu sudah terjadi, kalau dibiarkan dan masa tanggap darurat yang 14 hari habis, saudara-saudara di pengungsian tak kan mendap[at apa-apa lagi,” tambahnya serius.
Kini, berdasarkan hasil rapat semalam, Posko Utama sudah setuju memanfaatkan sumber daya NGO dan LSM, juga TNI yang sudah sedia sejak awal bencana tapi tak dimanfaatkan juga dengan maksimal. Lumbung Derma, Surfaid International, PMI dan lain-lain kini diminta mengendalikan operasi pendistribusian, diback-up PMI, Pemkab, Polri.
“Seluruh bantuan yang menumpuk di gudang akan didistribusikan melalui jalur darat dan laut. Perusahaan diminta membantu pembukaan jalur darat dari Sikakap ke Bake, Tapak dan Bulasat, pagai selatan. Ada jalan lama yang tinggal dibersihkan dan beberapa jembatan yang harus dibangun,” kata Korta.
Posko Tapak
Dari Posko Utama di Sikakap, bantuan akan dikumpulkan lagi dengan Kapal Jayanti untuk dibawa ke Tapak yang memiiki pelabuhan perintis, meski sekarang  tak punya dermaga lagi. Di sana akan dibuat posko dan gudang bantuan untuk menampung bantuan, dari situ baru dilansir ke dusun-dusun tang terkena.
“Kita akan drop semua bantuan ke sana untuk didistribusikan ke dusun-dusun yang terkena di Pagai Selatan, seperti Malakopak, Bulasat, Purourougat, Erukparaboat, Maonai , Bake, dan lain-lain, sehingga tak ada alasan lagi bantuan menumpuk di Sikakap karena tak ada armada dan sebagainya,” kata Korta.
Sedangkan Pagai Utara dan ipora utara sudah ditangani oleh Surfaid, PMi dan lain-lain, tambah Korta. ran

sumber :www.walhi.or.id

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s