ternyata punk itu sangat kompleks

mengucap kata punk atau menuliskan p, u, n dan k memang mudah. tapi permasalahan tentang punk sepertinya tak akan pernah berakhir. banyak para blogger yang menguak habis tentang kata satu ini. pro dan kontra’nya pun tambah banyak.

punk itu sebuah sub-budaya yang lahir di inggris, tepatnya di london. mereka yang asalnya sering cekcok dengan kaum skinhead lambat laun menjadi menyatu karena mumpunyai paham yang sama. punk menjadi genre musik di awal taun 70an. ditandai dengan munculnya The Ramones dan Sex Pistols.

well, seiring bergulirnya waktu punk kini mengalami banyak sekali perubahan. yang dulunya dianggap perusuh sekarang punk malah menjadi salah satu trend. banyak remaja sekarang yang mengatakan dirinya punker tetapi tak tau apa arti punk tersebut. style-nya diobral, ideologinya dilupakan. para punker senior jelas sangat menyadari hal itu. kecewa?? bisa jadi.

jrx sang drummer superman is dead pernah mengungkapkan betapa dangkalnya pemikiran remaja yang mengaku dirinya rebel. mereka gak tau gimana rebel yang sebenarnya. mereka hanya melihat rebel dari luarnya saja. membuang sampah plastik pada tempatnya dan mempengaruhi orang agar tidak buang sampah sembarangan menurut jrx bisa disebut pemberontakan. dalam hal ini punk memang identik dengan pemberontakan.

kita kembali ketahun 70-an dimana ada dua band di dua negara berbeda yang keduanya menjadi tonggak sejarah berdirinya musik punk. kedua band itu adalah The Ramones dari amerika dan Sex Pistols dari Inggris. Menurut beberapa sumber, ramones dianggap sebagai pendiri musik punk. tapi jika melihat bahwa punk itu sudah ada lebih dulu di tanah inggris, mungkin sex pistols lah yang semestinya menjadi tonggak pendiri musik punk. 1972 merupakan berdirinya the strand yang merupakan cikal bakal sex pistols, sedangkan ramones terbentuk tahun 1974. apa ada pendapat lain??

masuk ke generasi 90′an punk bergema kembali. ditandai dengan berkibarnya band-band seperti green day, the offspring, rancid dan blink 182. band yang disebutkan terakhir menjadi yang paling populer. mulai dari sinilah punk dikenal oleh khayalak luas. fashion mereka mulai digemari. punk menjadi konsumsi kapitalis yang mengabaikan sisi idealis seorang seniman. tiket konser, kaset. marchandise dan kaos laku keras di pasaran. tak bisa dielakan bila orang-orang jetset lah yang membawa punk dari luar ke indonesia. mereka para pelajar indonesia yang belajar di luar sana membawa beberapa majalah yang mencetak artikel tentang kaum anti-kemapanan itu.

kini kaos bergambar band-band punk dijual mahal di distro-distro. padahal awal mula distro didirikan oleh anak punk yang enggan membeli produk luar yang berharga mahal, mereka menjual baju yang dapat dijangkau oleh semua golongan. kini semua itu terbalik. harga distro tetap mahal yang murah terlempar ke pasar baru.

tahukah anda mengapa bad religion menggunakan lambang christ-crossed? salah satu alsannya : “Lambang itu sangat mudah bagi anak-anak untuk disemprotkan pakai hairspray atau dipampang di kaos”, sebut jay bentley sang bassis. tak ada kesan glamour.

kembali lagi ke awal 70-an. di saat band-band punk masih dapat dihitung dengan jari dan mereka telah dikontrak oleh perusahaan sebesar EMI tetap saja permintaan konsumen masih terbilang sedikit. masuk ke awal 80-an, di saat band heavy metal dan slowrock menggema dengan mengadakan konser besar dan lebih dilirik oleh para produser. band-band punk mulai memebentuk komunitas. mereka mengadakan acara independen dengan pamplet atau flyer yang ditulis tangan sebagai promosinya. penontonnya pun tak jauh dari teman sahabat setongkrongan yang itu-itu saja.

kini acara-acara yang melibatkan band punk sudah termasuk acara besar. beberapa produk besar berani mensponsori band punk yang manggung. pensi-pensi sekolah kini tak perlu khawatir mengundang band anti-kapitalis ini. tak ada lagi mohawk menjulang, tak ada lagi jaket kulit berlogo anarki. baju mereka kini merupakan kaos berwarna cerah dengan design yang cheesy jauh dari kesan seram.

kini kita bahas punk dalam negeri. di indonesia sendiri saya belum tahu pasti kapan punk masuk. yang pasti punk kini disambut ramah di indonesia. walaupun media masa menyorot sifat brutal punk.

kita tengok rocket rockers, endank soekamti, netral, closehead, my pet sally yang notabene bergenre punk (lebih tepatnya poppunk atau melodic punk, untukk rocket rockers ada yang bilang atu lebih tepatnya skatepunk). mereka tetap saja kurang atau tidak sama sekali memegang ideologi punk. lirik mereka cenderung menceritakan tentang pacar-pacar mereka, berbeda jauh dengan band punk awal yang menyuarakan pemberontakan kepada pemerintahan, kehidupan sosial, bahkan masalah agama. lirik punk tak jauh beda dengan lirik pop yang diubah dengan beat dan hentakan yang lebih cepat dan bertenaga.

superman is dead -lah sepertinya yang masih sedia memberontak. lirik mereka, ideologi dan fashion masih terbilang cukup old skool. mereka yang dikritik karena masuk mayor label ternyata punya keberanian lebih dibanding mereka yang indie tapi masih memikirkan lirik dan lagu yang easy listening agar para remaja mau membeli lagu mereka. superman is dead beserta para outsider (sebutan untuk para fans SID) -nya. masih setia memegang apa itu punk sebenarnya, menurutku.

untuk di jakarta disana ada band MARJINAL (kalo gak salah). sejujurnya saya belum pernah dengar lagu mereka. tapi saya telah membaca di beberapa artikel. sepertinya mereka menyuarakan kekesalan terhadap pemerintahan (that’s great !!).

maka jangan heran jika genre kaum glue sniffer ini menjadi mainstream. walaupun, dimanpun, kapanpun, bagaimanapun. PUNK’S NOT DEAD !!!!
sumber : ekocahyono.student.umm.ac.id

apa yang sebenarnya terjadi

SID Archieve News 12a

TimeLine Story !: Semacam report, agar visitor mendapat informasi apa yang sebenarnya terjadi, semua terangkum dari Q&A, juga opini dari beberapa orang. Pelan pelan aja bacanya biar semua kebaca, thx. Q : Bisa cerita tentang apa yang terjadi di Medan dan Jogja? A : Secara ringkas, SID diperlakukan sewenang-wenang di kedua tempat tersebut. SID dipaksa turun dari panggung dengan cara “barbar” seperti dilempari batu, botol Bir, bambu runcing, kayu, air kencing dibungkus plastik, dan segala bentuk kekerasan fisik. Perlu diketahui, si oknum pelaku kekerasan hanya segelintir jika dibanding dengan para pro-SID (baik di Medan maupun Jogja) yang turut bernyanyi sejak awal hingga akhir pertunjukan. Yup, 99% penonton turut bernyanyi selama SID manggung baik di Medan maupun Jogja. Belum lagi jumlah penonton yang amat membludak di kedua kota tsb. Cuman, yang segelintir anti-SID ini bener-bener agresif dalam mengungkapkan ketidaksukaannya. Atmosfir pertunjukan jadi berubah menjadi ladang pembantaian. Sebuah penindasan hak asasi. Kami sampai berpikiran, demokrasi sudah mati di scene Punk Rock Indonesia.. Q : Kenapa sampai sedemikian kasar sikap yang ditunjukkan oleh itu para anti-SID? A : Kami tak berani berandai-andai di sini. Tapi dari selebaran yang kami dapatkan di Medan di situ tertulis ajakan untuk memboikot SID. Antara lain kata-katanya: “Menjadi Rock Star adalah pilihan. Menjadi Punk Rock Star adalah pengkhianatan.” Kami jadi tersenyum membacanya. Rupanya Punk Rock sekarang sudah banyak peraturan, begitu pikir kami. Buat kami, jika merasa tidak suka dengan SID mah silakan aja. Go ahead. Monggo. S’il vous plais. Tapi tak perlu–dus tak benar secara hukum + melanggar hak asasi manusia–sampai menggunakan kekerasan dalam menunjukkan ketidaksukaan. Apalagi sampai menganggap diri mewakili seluruh Punk Rock scene dan membinasakan segala varian lain dari Punk Rock yang berbeda dari Anda. Itu adalah refleksi Unilateralist. Persis George W. Bush. Merasa mewakili Amerika dan merasa berhak memusnahkan para oknum yang berbeda pendapat dengan Amerika versi George W. Bush. Sementara yang di Jogja, kurang jelas benar apa sebabnya. Bisa jadi latar belakangnya sama dengan yang di Medan. Namun yang paling jelas tersimak dari peristiwa Medan dan Jogja tsb adalah miskinnya pemahaman pada makna demokrasi dan hak asasi manusia serta gejala awal premanisme musikal. Q : Apa yang membedakan antara insiden di USU Medan dan UPN Jogja? A : Di Medan, SID–setelah sekitar 6 lagu–langsung menyudahi pertunjukan. Situasi sudah sangat tak terkendali. Persis kayak perang aja. Bambu runcing, kayu, botol bir, botol aqua berisikan air kencing, batu-batu besar dan kecil, berserakan di panggung. Suasana juga agak gelap. Amat riskan jika pertunjukan diteruskan. Kami tak berani mengambil resiko. Di Jogja, setelah dua lagu pertama, terjadi huru-hara, pertunjukan dihentikan sebentar. Lampu kemudian dinyalakan. Terlihat jelas tampang-tampang itu para pemuda yang tak paham demokrasi dan buta tata krama (saat Tinka beraksi–selain terus melempar benda-benda keras ke panggung–tanpa henti mereka meneriakkan kata-kata bejat macam “lonte, sundel, ngentot”, dsb, kepada Tinka. Malah sampai setelah pertunjukan sekalipun Tinka masih didorong-dorong dan dikata-katai oleh itu para Unilateralist). Kami jadi berpikir, mereka punk rocker atau preman sih? Preman aja masih bisa menghargai wanita, tapi mereka yang saat itu berada persis di depan panggung? Duh, ini sebuah preseden buruk bagi kemaslahatan Punk Rock… (Catatan: peristiwa sejenis pula terjadi saat SID manggung di Surabaya. Sarah, satu-satunya wanita di kontingen SID saat itu, juga diperlakukan amat tidak manusiawi–malah ada yang berteriak hendak memperkosa dia–oleh segelintir manusia yang mengatasnamakan Punk Rock. Hingga detik ini Sarah tak mau lagi hadir di konser-konser Rock (selain di Bali) karena masih trauma dengan kejadian di Surabaya tsb…). Nah, lanjut yang tadi, setelah lampu dinyalakan suasana jadi terang benderang. Belajar dari pengalaman di Medan kami melihat keadaan akan lebih bisa dikendalikan jika seluruh lampu dinyalakan sehingga oknum-oknum yang melempar bisa terdeteksi dan jika terjadi situasi kritis kita tinggal ambil aja itu oknum pelaku kekerasan. Memang sih saat SID kembali melanjutkan pertunjukan lemparan-lemparan masih tetap ada namun masih bisa ditanggulangi (he he… lucu juga sih liat Bobby dan Eka sambil nyanyi sambil berkelit sana-sini menghindari batu yang liar beterbangan…). Q : Apa bisa dibilang para perusuh itu mewakili suara Punk Rock Medan dan Jogja? A : Ndak ngerti deh. Yang jelas–seperti kita bilang tadi–mereka adalah tipikal Unilateralist/Fasis/Nazi/salafi Radikal, telah merasa mewakili kelompoknya lalu seolah diberkahi “license to kill” oleh Tuhan Punk Rock dalam membinasakan orang yang berbeda konsep dengan mereka. Saat di Medan, setelah pertunjukan datang ke penginapan kita sosok macam Roy Romero dari Brontakzine, Army Clown, Cranium dan Underdog. Mereka bilang peristiwa tadi tak mewakili suara Punk Rock Medan. Begitu juga saat di Jogja, setelah pertunjukan datang Burhan ke belakang panggung (konon, Burhan ini adalah salah satu dedengkot Punk Rock Jogja). Burhan menyesalkan peristiwa tersebut dan tegas-tegas bilang bahwa para pelaku bukan dari Punk Rock scene Jogja. Di penginapan juga kemudian datang Endank Soekamti, Shaggy Dog, dll entah siapa, yang senada dengan Burhan hendak mengklarifikasi bahwa peristiwa di UPN tsb bukan mewakili scene Jogja. Sebenernya buat kita masalah suka gak suka itu adalah hak masing-masing. Namun dalam menerapkannya harus disertai kedewasaan. Sekalian belajar berdemokrasi. Jika orang lain suka sementara kita gak suka jangan lalu menganiaya kemerdekaan pihak yang bersuara beda dengan kita. Contoh sosok demokratis adalah Jimmy “Punk”, yang di Jakarta disebut sebagai salah satu “Mbah”-nya Punk di Jakarta. Tanpa harus punya persepsi sama tentang Punk, kita enak aja bergaul satu sama lain. Ya saat SID di Jakarta, ya saat Jimmy di Bali, SID dan Jimmy adalah sahabat dekat. Soal musik? Nanti dulu. Kita satu sama lain gak sepakat, beda pendapat. Tapi secara personal kita adalah sahabat. Hey you Unilateralists, begini ini demokrasi paling sejati. Q : SID dibilang banci karena gak berani melanjutkan pertunjukan di Medan. Tanggapan Anda? A : Dibilang banci, pengecut, dll, ya terserah deh. Coba aja kita tuker posisi, mereka yang berada di atas panggung, dan kita jadi pihak yang melempari mereka. Kalo mereka bisa lewat sampe 6 lagu, acung jempol tinggi-tinggi deh. Saat di Jogja itu, saat kita mundur ke belakang panggung nyusun strategi, para perusuh juga meneriaki SID banci, he he… yang banci sebenernya siapa? Beraninya cuman rame-rame trus pake bawa-bawa batu lagi. Tuker posisi yuk, kalo gitu. Mereka di atas panggung (tetep rame-rame), SID di bawah panggung ( tetep bertiga aja) sambil bawa batu, botol bir, aqua isi air kencing, dsb. Selama non-stop 30 menit SID ngelemparin mereka. Gimana, seberapa “pahlawan” sih mereka pada? Q : Berkaca dari kejadian sejenis begini kira-kira apa ada hubungannya dengan masuknya SID ke major label? A : Entahlah. Lagipula, apa yang salah dengan major label? Rancid aja masuk major. Bayangin jika Sex Pistols, Ramones dan The Clash gak masuk major, wah, mungkin Indonesia baru tau yang namanya Punk Rock tahun 2000-an ini. Justru gara-gara mereka masuk major (yang notabene pendistribusiannya lebih menggurita ke penjuru dunia) Punk Rock akhirnya bisa dikenal di Indonesia. Dan faktor ke-2 SID bergabung dengan major adalah menjadi sosok realistis. SID pengen sepenuhnya hidup dari bermusik. Di Indonesia, jika ingin sepenuhnya hidup dari musik pilihan paling realistis–menurut SID–adalah bergabung dengan major. Apalagi SID bukan band tajir. Jika berkiprah terus di jalur Indie karir bermusik kita gak bakalan kemana-mana. Bakal mentok di situ-situ aja. Itu yang SID alami sendiri bertahun-tahun. Lain persoalannya jika kita masih minta duit ama ortu, main musik cuma untuk euforia sesaat, ya bisa aja kita berkoar-koar tentang seberapa luhur suci etos D.I.Y. (bukan “Do It Yourself” tapi “Do It Your-parents” he he…). Dan dari apa yang sudah SID lihat selama ini, biasanya oknum-oknum yang ngaku paling underground tsb saat beranjak dewasa (baca: harus cari kerja), ortu mereka udah ogah mensubsidi mereka, udah deh, “karir” Punk Rock mereka habis juga di saat yang sama. Hanya sedikit yang mampu bertahan sesuai dengan apa yang digembar-gemborkannya sejak mula. Dan itu pun oh sangat-sangat sedikit yang benar-benar hidupnya bersumber dari musik tok. Mutlak diketahui, SID sudah sepenuhnya lepas dari subsidi ortu, sudah sepenuhnya ingin hidup dari musik, ya kita lalu memilih bergabung dengan major. Bedanya, kita tidak menyodorkan demo ke label manapun (major, minor, indie, major indie, whatever). Jika orang lain melakukannya (ngasih-ngasih demo ke label) silakan aja, itu pilihan berkesenian mereka dan ini negara bebas. Tapi SID tidak. Sebab SID pengen sejak awal posisi satu sama lain, antara SID dan major adalah sejajar. Bukan bak hierarki atasan dengan bawahan. Yang biasanya terjadi, setelah sebuah band nyodorin demo ke label segera saja hierarki atasan dengan bawahan instan terjadi. Label saat itu juga cenderung merasa punya otoritas luar biasa dalam menentukan arah hidup si band. Ini musti dikurangi, itu musti ditambahi, ini cocoknya dengan itu. Segala bentuk peraturan muncul kemudian dari pihak label. Dari si band sendiri terang aja gak bisa bersikap lain kecuali manut. Bagaimana tidak, sejak awal kondisinya emang bak atasan dengan bawahan. Si band yang perlu pada label. Hierarkinya tak sejajar. Lain soal jika dari awal posisi satu sama lain berimbang. Tak ada yang lebih berkuasa di sini. Segala keputusan harus melalui kesepakatan bersama. Nah, banyak yang buruk sangka dengan pilihan SID bergabung dengan major. SID langsung divonis bersekutu dengan iblis. SID spontan mendapat sebutan “pengkhianat”. Padahal jika paham pra-kondisi, pra-sejarah SID bergabung dengan major (saksi hidup dari “luar” komunitas SID dan melihat perjalanan lengkap SID, paling kompeten ada 2 orang yaitu Felix “Pause” mag dan Wendi “Razzle” enterprise–who have been there since day one–, jika kita boleh nyebut nama) bisa jadi reaksi yang muncul akan berbeda. Tidak instan memvonis dengan sebutan ultra negatif. Malah yang akan muncul justru sebuah penghargaan pada perjuangan SID sebab masih sanggup menggabungkan sikap realistis sekaligus tetap teguh mengibarkan idealisme di saat yang sama. Sekali lagi, jika memang serius bermusik dan memang pengen hidup dari musik tentu saja main musik selalu dibayar pake tengkyu, dibayar Vodka, sekadar uang transport, wah, dijamin 100% pasti gak bakalan cukup untuk menopang hidup! Eh, ngomong-ngomong, di Punk Rock itu berlaku standar ganda ya? Kok Sex Pistols, The Clash, dan Ramones, selalu mendapat maaf dan terus dicintai oleh Punk Rock scene atas keputusan mereka gabung dengan major. Sementara band lain yang gabung dengan major pasti langsung dicap “sell out”, pengkhianat, axis of evil, dsb. How come? Q : Apa tak punya kecurigaan bahwa major hanya memanfaatkan Punk Rock yang lagi booming di seluruh dunia lalu menjadikan SID sebagai “proyek percontohan” di Indonesia? Um, masih ingat “trend Ska”? A : Ah, kita gak pernah ribet berpikir sejauh itu. Satu sama lain punya kepentingan berbeda. SID punya kepentingan meneruskan karir bermusik. SID hanya ingin terus berkesenian. Urusan distribusi, promo, rekaman, biar label yang ngurusin. SID cuma pengen fokus berkarya, mencipta lagu, manggung mengekspresikan diri. Jika label misalnya punya agenda tertentu ya biar aja. Selama wilayah berkesenian kita gak diintervensi ya kita mah damai-tentram-kerta-raharja aja. Dus, jangan pernah lupa, ini tahun ke-8 SID bermusik Punk Rock. Bagi SID Punk Rock itu selalu ada, tak terpengaruh trend. Persis seperti fenomena Doc Martens atau Levi’s 501. Ketika sedang mencapai puncaknya Doc dan 501 dipakai oleh hampir seluruh remaja dunia, termasuk SID sendiri. Oleh media massa fenomena Doc & 501 dikategorikan sebagai trend. Ketika peminat Doc dan 501 surut di kalangan remaja, SID masih terus memakainya. SID tidak mengikuti kecenderungan yang terjadi pada remaja lainnya. SID tidak membebek pada “what’s in” dan “what’s out” yang ditulis media massa. Analoginya kira-kira macem begitu deh. Hey, look, we’re not gonna give up the thing (read: Punk Rock) that we’ve been doing for the last 8 years just because the media tagged it as the year 2000 “it” thing! Q : Bergabungnya SID dengan major menyebabkan SID memperoleh ekspos yang melebar ke penjuru Nusantara. Di lain pihak menurut Punk Rock purists ekspos berlebih adalah haram hukumnya bagi band Punk Rock. A : SID sendiri sudah melakukan self-censorship dalam menekan ekspos agar tak berlebih.SID pribadi memang kurang menyukai gempita selebriti-selebritian. Jarang banget liat SID di tivi, kan? Emang sengaja kok (kecuali jika konsepnya cocok dengan perspektif berkesenian SID baru deh SID menyanggupi tampil). Biar kata jutaan tawaran nongol untuk tampil, SID bersikeras meminimalisir ekspos berlebih. Begitu juga dengan media cetak. Kita selektif hanya menyanggupi kerjasama dengan majalah tertentu. Begitu pula jadwal manggung. Kita bener-bener meminimalkan tampil terlalu sering di suatu kota dan lebih mengutamakan tampil di daerah yang belum pernah dikunjungi. Semua itu maksudnya agar SID tak over-exposed. Tapi apa mau dikata, popularitas tetap tak bisa ditahan. Ketika sudah saatnya membludak ya membludak aja. Iya, terjadinya begitu saja. Natural aja. Apa pun bentuk self-censorship yang kita lakukan. Sepertinya berjuta antisipasi yang kita terapkan tak sanggup membendung minat publik pada SID. Ya akhirnya gini deh, SID terkesan mengeksploitasi Punk Rock. Padahal sebenernya semuanya berjalan alami saja. Q : Musik SID sekarang penggemarnya kebanyakan ABG dan anak SMA. Payah. A : Oh ya? Berarti selera anak SMA adalah cemen, jeblok secara kualitas seni, gitu? Kalo emang iya begitu, kok banyak band berebutan agar bisa tampil di acara PL Fair? Bukankah PL Fair itu acara pensi SMA? Dulu, asal tau aja, salahs seorang SID pertama kali dikasih hadiah cd MXPX di taun 1995 oleh cewek Amrik berumur 12 taun! Padahal di Nusantara ini MXPX oleh sebagian khalayak dipandang sebagai sosok sakti mandraguna. Sementara di Amrik MXPX adalah konsumsi ABG. Apakah itu berarti MXPX adalah band buruk? Pula, ketika sebuah band berhasil menjual album sebanyak 1 juta kopi dan di saat yang sama ada 4 krikitus musik menganggap bahwa album band tsb jelek. Apakah mutlak berarti 999,996 orang yang membeli album tsb adalah orang goblok semua dan justru 4 kritikus itulah yang paling paham musik? Is that so? Q : Apa pendapat SID tentang Kapitalisme? A : SID gak mikirin soal tetek bengek Kapitalisme. SID minum bir, mengekspresikan diri lewat musik, dan bergembira. Ndak peduli dengan Kapitalisme Cap Go Meh. Q : Lalu apa tanggapan SID ketika sebuah band Jakarta saat diwawancara di sebuah radio nuduh SID sebagai Agen Kapitalisme Internasional? A : He he… mungkin band tsb lupa bahwa 99,9 % radio-radio yang ada di Indonesia adalah bagian integral dari Kapitalisme itu sendiri. Bagaimana tidak, kelangsungan hidup hampir seluruh radio di Indonesia itu bergantung pada iklan Lux, Pepsodent, Rinso, dll keluaran korporat toiletries bernama Unilever, juga korporat macam Djarum, Bentoel, dll, yang jelas-jelas perusahaan-perusahaan tsb adalah ikon masif Kapitalisme. Mendiskreditkan Kapitalisme di corong Kapitalisme? (Lupa kali ya itu Jaksa Agung Muda Urusan Pidana Kapitalisme sedang berada di Kota Madya Kapitalisme?) Er, apa itu band memang figur pemberontak Kapitalisme nomor wahid atau malah sekadar pendekar mabok gak paham esensi Kapitalisme–dan berpikiran jika sebuah band kencang meneriakkan anti Kapitalisme artinya band tsb adalah band ultra cool? Pernah juga terjadi–contoh ironis yang lain nih–saat beberapa personel SID main ke Hard Rock Cafe Jakarta bersama sahabat asal Swedia, Erik (seorang aktivis Punk Rock yang notabene militan anti major label sekaligus kenal amat dekat dengan komunitas label Punk Rock Swedia, Burning Heart, dus kawan sepermainan dengan band macam Satanic Surfer). Malam itu Erik mengenakan kaos SID. Eh, tiba-tiba dia dideketin ama seseorang yang tampaknya gerah melihat Erik memakai kaos SID lalu segera saja menceramahi Erik dengan petuah-petuah yang intinya mengatakan bahwa SID itu bukan refleksi dari Punk Rock dus Punk Rock yang benar itu seperti ini seperti itu. Erik yang notabene “1000% sadar Punk Rock” jadi geli sendiri. Bukan karna petuah Punk Rock yang dia amat paham. Tapi berceloteh tentang seberapa luhur suci Punk Rock di tempat macam Hard Rock Cafe (baca: ikon besar Kapitalisme)? Oh, come on, man…! Kita datang ke Hard Rock Cafe cuma untuk bersenang-senang, melepaskan diri dari kepenatan metropolitan, ndak peduli lagi soal Punk Rock Cap Go Meh. We come here to have fun. We don’t care about Punk Rock, Capitalism, or else. Drinking beers and having a good time fun. Period. Miris, kan, ngeliat sang oknum “penegak ajaran Punk Rock” bersabda tentang Punk Rock di Hard Rock Cafe? Lupa kali ya itu Nabi Punk Rock sedang berada di Kapitalismepolitan? Tentang oknum yang “tergerak hatinya” saat melihat orang lain menggunakan kaos SID, terjadi di sebuah universitas di bilangan Jakarta mana gitu. Begitu melihat ada yang pake kaos SID, wih, langsung saja mereka, kalangan cerdik cendikia Punk Rock itu, memaksa agar kaos tsb dilepaskan lalu ramai-ramai membakar itu kaos SID. Kasian banget itu yang make kaos SID yang tak mengerti apa-apa diperlakukan sedemikian sewenang-wenang. Mahasiswa, tulang punggung bangsa, kok bisa ya berbuat sedemikian opresif? Demokrasi sudah mati di tempat mana demokrasi terus bising didengungkan? Balik ke inti persoalan, SID gak ambil pusing dengan cap Kapitalis atau sejenisnya. We drink beers, crank up Rock ‘N Roll and have big time fun! Q : Sensitif nih, SID pernah berkata “Fuck Javanese”? A : Ini adalah sebuah fitnah paling keji yang pernah SID terima. Terakhir malah kami baca di “Info Musik Gratis” ada seseorang yang dengan seenak jidatnya menuduh bahwa SID anti orang Jawa tanpa punya bukti sahih (kata oknum tsb setiap kali SID di panggung bakal selalu ngomong: “Fuck Javanese!”. Whoa! Emang dia pernah nonton SID manggung??!). Padahal kan perbuatan macam begitu termasuk delik pencemaran nama baik dan bisa dilaporkan ke polisi agar diproses secara hukum. Saat di Surabaya juga banyak yang terprovokasi dengan isu murahan “Fuck Javanese” ini sampai-sampai SID dilempari ketika manggung di acara Volcom Skate Jam-O-Rama. (Paling inget gimana raut muka Zhewex, vokalis Karpet, duh pekat berlumur benci dan doi adalah salah satu orang yang paling aktif memprovokasi massa). Dendam sih kita kagak. Cuma heran aja, kenapa orang bisa semudah itu termakan isu yang gak jelas juntrungannya. Apalagi ketika kemudian kami tau bahwa hal yang membuat massa kalap adalah konon kami benci orang Jawa. Anjist. Apa pula ini? Look, sederhana saja, jika SID emang anti-Jawa kenapa musti sengaja main di Surabaya? Bukankah itu bunuh diri namanya?! Atau mau bukti lain? (Paling males sebenernya meng-counter gossip murahan kayak begini, tapi karena sudah sebegitu banyak yang termakan isu ini ya udah kerjain aja… Ugh!) Setiap kali SID main di luar Bali (Jakarta, misalnya) maka SID akan memakai crew yang diambil di Pulau Jawa (Jakarta). SID gak bawa crew dari Bali. Crew yang ada di Jawa tsb terdiri dari berbagai suku yang ada di Indonesia. Dan buat SID,–kami sepaham dengan Goenawan Mohammad; kami menyebut diri “Universalis”; tak dibatasi sekat suku, ras maupun agama–mo dari Jawa kek, Sumatra kek, Badui kek, planet Mars kek, silsilah demografis itu bukan halangan dalam berinteraksi. Asal tau, crew SID yang ada di Pulau Jawa asal mulanya adalah sohib-sohib SID yang lalu direkrut jadi crew. Mau bukti tambahan? Coba sekali-sekali main ke Poppies, tempat kita ngumpul. Pernah denger istilah “melting pot”, kan? (bagi yang belum tau, melting pot = muara interaksi multilateral; wadah asimilasi berbagai varian ras, suku, agama) Nah, Twice/Suicide Glam di Poppies Lane 2 tempat kita hang out tsb ya memang merupakan muara tempat bergaulnya bukan cuma antara Jawa+Bali+Sumatra+Sulawesi+daerah Indonesia lain, malah dengan skala lebih lebar yaitu mencakup berbagai suku bangsa. Jika SID memang punya sifat Xenophobic (anti orang asing), ndak mungkin dong tempat hang out kita bisa sampe sebegitu “Bhineka Tunggal Ika”. Atau kalo mo saksi hidup, coba hubungi majalah Hai, Kawanku, Poster, MTV Trax, mantan anggota Puppen, vokalis Fable, manajer Superglad, Rebek, atau siapa saja yang memang benar-benar pernah ke Twice/Suicide Glam. Tanyain mereka satu hal, “Apa bener SID anti Jawa?”. Mereka pasti jawab, “Ke laut aja lu!” Next question, please? We got fed up replying this stupid gossip! Q : Oleh beberapa orang SID dianggap tak layak mendapat award. Mereka bilang derajat musikalitas SID jauh dari istimewa. SID juga tak mengerti sound…?? A : Apa kita berbicara prog-rock di sini? Hey, kita tak bicara presisi di sini. SID adalah band Punk Rock. Punk Rock itu musik tiga jurus (baca: sederhana). Selebihnya “attitude-heavy” alias kolosal mengedepankan attitude. Gak semata tentang musik an sich. Dan SID sejatinya gak banyak berubah. Baik dari elemen musikal maupun prilaku. Sejak jaman indie hingga kini. Ketika Bobby menyanyi kadang masih suka kepleset alias fals. Jerinx–terutama kalo kebanyakan minum bir–sesekali suka lengah menjaga tempo. Eka giliran asyik jejingkrakan suka lupa menjalankan tugasnya sebagai vokal latar. Buat kami hal macam begitu bukan aib. Tapi itu adalah SID yang asli. Kami tentu saja berusaha tampil maksimal. Tapi gak terlalu ngoyo agar show jadi amat sempurna. Kami biarkan aspek manusiawi tetap mengambil peran di situ. That’s what Punk Rock is about. Look how Sex Pistols were. They didn’t even know how to play. We are not Sex Pistols. But we truly agree with the whole concept of Punk Rock that they once invented. Furthermore, saat mempromosikan pertunjukan pun yang SID muntahkan ke publik justru propaganda yang tak mengungkapkan seberapa hebat SID, justru sebaliknya. Contoh: ########## Um, we ain’t talkin’ about sophisticated, exotically structured, top-notch music here. Hell no. We’re talkin’ more about: Unschooled, slick-as-hell Punk pagans Young urban noise purists with untrained ears, untrained skills Avid beer-drinkin’ socio-cultural Maximum Rock ‘N Roll energy Adrenalin OD gig and F**k-you attitude” ########## ***Diambil dari promo acara “Black Heart: Tales From Goth-Punk Suburbia”, 13 Februari 2003. ***Propaganda ini dibuat oleh SID sendiri. Nah, bagaimana, apa ada SID nyebut diri sakti mandraguna? Iya, coba perhatikan saja kalimat “we ain’t talkin’ about sophisticated, exotically structured, top-notch music here” dan kata-kata “untrained skills” dus “f**k you attitude” di situ. Salah besar jika Anda berharap dari SID akan mendapatkan pertunjukan “sempurna” layaknya band-band ternama Indonesia. Begitu juga tentang sound, SID selalu jujur bilang ke soundman kita (Albert, Yoni, atau Dera) juga ke orang lain (paling gampang tanyain Wendi atau Felix deh) bahwa kita ndak ngerti sound dan kita masih belajar (perhatikan propaganda “Black Heart” utamanya kata-kata “untrained ears” dan “f**k you attitude”). Makanya jika orang lain lantang berteriak bahwa SID ndak ngerti sound pasti kita bakal terus terang bilang, “Iya nih, kita memang masih belajar ttg sound”. Cuman, berkaca dari pengalaman, yang seru adalah saat kita main di acara Puma Street Games di Senayan, September 2002–waktu itu masih indie. Oh Sid Vicious Yang Maha Esa, penonton kelojotan moshing seanjing-anjingnya saat SID beraksi di panggung! Padahal, man, jangan tanya seberapa buruk mutu suara yang muncrat dari sound system. Jangan tanya seberapa kacau balau tempo permainan SID waktu itu. Tapi coba liat reaksi penonton, total beautiful chaos! They didn’ give a flying f**k about sound system Cap Go Meh. And it really made The Almighty Sid Vicious cracking up his big Punkrock-ish smile. Nah, kawan, fenomena apa ini? Antiklimaksnya, kenapa saat SID sign up sama major (5 bulan setelah Puma Street Games) tiba-tiba ekspektasi publik kepada SID langsung melonjak hebat lalu berharap mendapatkan sesuatu yang “sempurna”? Lucu, bukan? Coba, apa bisa kita ngerti sound cuma dalam rentang 5 bulan? Apa bisa bermusik “sempurna” dalam hitungan 5 bulan? Mustahil dong. Tapi tenang aja, kawan, SID tentu akan terus belajar memahami sound dan bergiat belajar bermusik. Makin ke depan semoga makin jago main musik. Selebihnya yang musti diingat di sini adalah pengetahuan ttg sound atau kemampuan menguasai instrumen yang mumpuni bukanlah satu-satunya faktor utk mampu “mencuri” perhatian publik. Ada banyak faktor yang saling berkaitan. Jadi yang penting diketahui: SID ya emang kayak begini ini. Dalam konteks musikal, sudah sedikit lebih baik dibanding saat manggung di Puma Street Games, September 2002. Jika punya ekspektasi yang lebih dari bagaimana SID sekarang ini, jika ingin melihat band yang secara musikal tanpa cacat, kami sarankan Anda mulai memutar Dream Theater saja di stereo Anda. Jika masih belum puas, hubungi segera Sony Music Indonesia serta ofensif protes ke mereka: “Kok sign up SID sih? SID itu band jelek!” setelah itu tawarkan band Anda ke mereka. Mari sama-sama tunggu reaksi Sony seperti apa. Adil, bukan? Sekarang tentang award yang diberikan kepada SID. Perlu dipahami, SID ndak pernah yang namanya mendaftarkan diri agar dicalonkan dalam award-award tsb. SID juga ndak pernah menghasut penggemar SID agar kirim SMS ke MTV Award atau juri AMI Award biar SID menang. Tau-tau aja SID menang di ke-2 award tsb tanpa SID sumbang andil sama sekali. Barangkali penggemar SID yang pro-aktif voting untuk SID (dan untuk itu SID besar terima kasih pada fans atas segala susah payahnya). Dari SID sendiri award itu tak membuktikan apa-apa. Sebab mendapatkan award bukanlah tujuan bermusik SID. Maka itu, yup, SID gak pernah dateng ke award-award tsb. Jika orang lain menganggap award itu penting, silakan, ini negara bebas, do whatever you feel like. SID ndak terlalu ambil peduli dengan award Cap Go Meh. Q : SID band OKB (Orang Kaya Baru)? A : Ha ha… pernah main ke Bali dan ngeliat langsung keseharian personel SID? Bobby itu rumahnya di gang dan gak punya motor. Eka itu tinggal di kos-kosan bareng istri dan bayinya. Jerinx sendiri tak bisa dikategorikan borju. Doi cuma kelas menengah. Eh, kalopun ke depannya nanti SID jadi band kaya apa gak boleh? Band Punk Rock dilarang hidup sejahtera? Buat SID mencapai tingkat hidup yang lebih memadai bukan hal haram asal saja tak melenceng dari garis idealisme yang dianut selama ini. Sejujurnya, SID bosen miskin he he… Next question, please! Q : Pendapat SID tentang kaos yang banyak dijual di lapak-lapak seperti “Fuck SID”, “Superman Is Dead Is Dead”? A : Biasa aja. Siapa pun berhak mengekspresikan apa yang ada di hatinya. Bahkan si Eka (bassist SID) ikutan beli baju “Fuck SID” dan dipakainya manggung di Senayan seraya tak lupa bilang, “You say fuck you, we say thank you!” (di kesempatan manggung berikutnya–juga di Senayan–penggemar SID malah ikutan make kaos yang kayak dipake Eka! He he…). Hanya yang agak mengganggu dan tak adil di sini, ekspresi ketidaksukaan ini kok justru dibisniskan. Selain kepentingannya sudah bias, bukankah itu sama dengan “menari di atas penderitaan orang lain”? Q : Kok Punk Rock glamour? A : Huh? Look, acuan kita dalam berbusana adalah band macam AFI juga Stray Cats, Living End, Supersuckers, Reverend Horton Heat, Rocket From The Crypt, dan band-band Rockabilly lainnya. Acuan SID lebih ke Punk Rock Amerika yang lebih kental nuansa Rock ‘N Rollnya. Pula cenderung non-politikal. Lebih mengedepankan fun. Iya, apa Punk Rock harus jarang mandi? Apa Punk Rock harus stereotype seperti Punk Rocker yang banyak bertebaran di King’s Road, London? Kenapa tiba-tiba ada kata “harus” di wilayah Punk Rock yang notabene esensi hakiki Punk Rock adalah menjadi manusia bebas merdeka? Heran, Punk Rock kok banyak peraturan ya…? Q Tarif SID mahal! A : Tarif SID sekarang 10 juta. Dan itu hanya berlaku untuk acara komersial, dengan sponsor besar. Jika konser yang dibikin oleh mahasiswa atau bersifat DIY, SID rela dibayar seadanya bahkan gak dibayar (lucu ya, di Indonesia ini jika band main gak dibayar berarti band tsb cool, anti kapitalis, merakyat, dsb. Padahal kalo bener-bener mo hidup dari musik mana bisa sih terus-terusan bertahan hidup dengan tengkyu?). Waktu SID main utk acara anak Mpu Tantular, Moestopo, Unpar, dsb, SID hanya dibayar sekedarnya aja. Malah saat main di Buqiet Cafe – Bandung SID gak dibayar sama sekali. Dikasih bir dingin doang. Nah, apakah itu sebuah prestasi? SID = band ultra cool karna rela gak dibayar? Q Tiket pertunjukan SID mahal! A : Ah, kita juga bingung orang-orang itu maunya apa. Saat main di Jogja dengan tiket Rp 20 ribu dibilang kemahalan. Dikasih Rp 7,500 bikin rusuh. Digratisin, rusuh juga. Bilangnya tiket Rp 10 ribu kemahalan tapi beli Vodka 2 botol kok mampu? Phew. Q : SID band sombong? A : Punya pertanyaan lain yang lebih berbobot? Males banget jika persoalannya melulu interpretasi. Pak Raden misalnya, secara visual pasti kita berpikir bahwa doi orangnya galak dan/atau angkuh. Padahal belum tentu kan? Udah ah, males ngerespons yang kayak ginian. Lagian udah panjang lebar diskusi kita. Sudah sampai di sini aja ya! —Berikut adalah beberapa komentar dari pihak lain— >>> DENNY SIHOTANG <<< LIVE SID di Medan SUPERMAN IS DEAD, DEAD, DEAD !!! Terlepas dari prestasi SID mendapatkan predikat artis Pendatang Terbaik AMI Award, aku mau cerita sedikit soal penampilan mereka di Medan, Selasa 7 Oktober lalu di areal Pendopo Kampus USU Medan. Malam itu SID tampil menjadi guest star di depan sekitar 7000 an audience. Kenapa bisa demikian ramai? Boleh jadi karena even gratisan. Tapi boleh jadi juga karena nama besar SID itu sendiri. Penonton yang hadir juga beranekaragam, dari cewe-cewe wangi dan kece, abege-abege, sampai pada segelintir orang yang emang mengerti musik. Terlepas dari itu semua, rasa penasaran pengen liat live nya SID aku rasa yang membuat penonton berjubel. Dibuka dengan teriakan Horasss Medan, tanpa basa-basi, SID langsung menggeber dengan sebuah lagu yang aku tak tau pasti judulnya, tapi pasti berasal dari album bad… bad… bad… sayangnya, baru hitungan ke 30 soundsystem ngadat karena daya listrik kurang (kali aja). Buktinya, gak lama kemudian listrik hidup lagi. Sayangnya, SID langsung maen geber aja, langsung ganti lagu, bukannya mengulang lagu yang pertama mereka mainkan. Rumor bakalan adanya serangan terhadap gigs SID ini ternyata bukan hanya isapan jempol. Memasuki tengah lagu kedua, aneka sumpah serapah mulai nyaring terdengar. Kata-kata makian yang ditujukan ke si PUNK ROCK STAR semakin menjadi. Lemparan aneka benda berbahaya (air kencing dalam botol air mineral, sendal, batu, bambu panjang, sampai pada tai… yang ini belum diketahui kebenarannya, bisa jadi hanya sekedar lumpur. cuma karena udah gelap, orang bisa menyangka sebagai kotoran manusia). Malah, ada beberapa penonton bekerjasama menggendong seorang temannya, dan saat si teman di atas dia langsung membuka resleting celananya dan (maaf) menunjukkan kemaluannya sambil berteriak : ini sama kalian!. Ampun deehh… Memasuki lagu ketiga, serangan bukannya mereda, malah semakin menjadi. Bambu panjang yang sebelumnya digunakan sebagai tiang ikatan umbul-umbul sponsor semakin banyak berterbangan ke stage. Sampai-sampai personil SID mesti goyang sana-sini untuk menghindar. Sayangnya, entah karena tertekan (atau memang kualitas cuma segitu…?) permainan SID makin gak menentu arah. Beberapa kali tempo musik yang mereka mainkan kejar-kejaran. Plus, soundsystem yang mati-idup beberapa kali. Penonton makin brutal dan chaos semakin jadi. Tak hanya SID, panitia yang di depan stage juga kena makian dan ludah penonton. Usai lagu keenam (kalau tak salah kira), tanpa basa-basi SID ngabur kebelakang panggung. Rupanya penonton yang kontra dengan mereka sudah mengantisipasinya dan langsung menguber sang PUNK ROCK STAR ke belakang panggung. Aku sempat melihat seorang penonton, berambut gondrong dan sedikit emosi mengejar kerumunan personil SID dan security panitia. Si gondrong aku lihat sempat menghadiahkan sebuah bogem mentah (sayangnya aku gak tau siapa yang mendapat hadiah tak diharapkan itu, entah personil SID atau panitia). Mobil tumpangan mereka juga dipukul-pukul dari luar. Begitu SID menghilang, panitia yang sebelumnya cukup banyak itu juga menghilang. Stage ditinggalkan dalam keadaan kosong. Mereka cuma berani memantau dari kejauhan. Sesudahnya, kubu yang pro dan kontra SID kemudian membuat koalisi. Kelihatannya mereka kecewa berat dengan live SID malam itu. Dari kubu pro, boleh jadi mereka tidak puas menonton pujaan mereka sambil bermoshing ria. Sedangkan dari kubu yang kontra, boleh jadi mereka belum puas melampiaskan emosi dan marah mereka. Karena minim pengamanan (tak satupun keliatan aparat kepolisian ataupun TNI, mungkin karena di dalam kampus) penonton semakin brutal. Umbul-umbul yang berdiri di sisi kiri dan kanan jalan dibakari. Beberapa spanduk di depan stage juga dicopoti dan dibakari. Untunglah audience tidak terpancing semakin jauh. Walau samar-samar masih terdengar teriakan-teriakan : ayo kita kejar mereka ke Sumatera Village, sebuah resort sekitar 15 km dari lokasi pentas, tempat SID menginap. Aku sendiri gak tau pasti, apakah mereka memang benar-benar mengejar sampai kesana malam itu. Seiring waktu berjalan, audience sepertinya baru tersadar kalau pesta sudah usai. Satu persatu mulai beringsut pulang. Api yang sempat berkobar pelan-pelan juga mulai padam. Sekitar 2 jam kemudian, patroli polisi memasuki lokasi kampus, mengawal kru panitia mengemasi stage dan soundsystem. Bagaimana dengan SID? Apa yang ada dalam pikiran mereka? Apa opini mereka soal audiece Medan? Soalnya lemparan kali ini berbeda dengan “lemparan khas” penonton Medan yang berarti salut, atau angkat tangan kepada permainan sebuah band. Lemparan mereka kepada SID malam itu memang benar-benar menunjukkan kalau mereka tidak suka, benci, dan dendam. Entah karena apa. Aku gak tau pasti. Yang pasti, pro dan kontra itu dimana-mana selalu ada. Tapi apakah PUNK itu mesti brutal, chaos, dan DEAD??? Malam ini (Rabu, 8 Oktober 2003) mereka akan manggung di Jogja bareng Endank Soekamti dan beberapa band lain. Bagaimana dengan audience Jogja? Mohon kabar dong…? Bad… Bad… Bad… Sad… Sad… Sad… salam damai, Denny Sitohang mteens magazine, medan —————————————————————- >>> ALIENUX <<< sound system ngadat memang benar dan itu disebabkan kurangnya daya listrik serangan 2 terhadap SID yang memang udah di persiapkan oleh orang orang yang kontra terhadap SID (menyebarkankan pamflet saingan untuk memboikot gigs tersebut Para personil SID mengetahui hal itu tapi tidak meruntuhkan semangat mereka untuk tetap bermain di medan pada saat itu dan akan datang.). penonton yang melakukan kekekrasan hanya berkisar 20-30 orang punkers yang tidak mengerti punk yang berada di sisi panggung sebelah kiri namun mereka terus memprovokasi cara kekarasan bahkan dari beberapa panitia dan crew SID ikut terkena lemparan walaupun tidak menibulkan korban luka,tidak adanya aparat kepolisian di gigs tersebut di karenakan otonami kampus yang tidak memungkin kan adanya polisi. SID berhenti karena stage manager dari panitia yang meminta untuk segera menghentikan aksi panggung mereka karena panitia melihat bahwa lemparan lemparan dari segelintir orang itu sudah membahayakan tidak ada yang mengejar sid ke tempat mereka menginap di sumatra village yang ada hanya band band pendukung gigs tersebut yag datang bertamu dan nongkrong bareng dengan SID .bagi SID kejadian ini tidak akan membuat mereka jera untuk main lagi di medan bahkan meraka berkata kami cinta medan maka kami akan tetap tampil lagi di medan bung !!! konfirmed by ALIENUX yang berada langsung di atas panggung dan merasakan langsung lemparan batu penonton cheers, beers punkrock in your ears ——————————————————————– >>> FELIX <<< “We just loved to play and didn’t care about anything else. It was very surreal, being wandering around, being part of this big circus.” (Chris Joannou – Bass Player of Silverchair. Courtesy of Tomorrow Never Knows, The Silverchair Story, written by: Jeff Apter, Coulomb Communications 2003) Waktu itu, hari beranjak larut. Sekitar pukul 10 malam. Waktunya untuk pulang ke rumah. Mengakhiri hari. Tapi, ada satu keinginan tertinggal, pergi ke warnet. Cek email sebentar, browsing beberapa gambar aneh untuk kepentingan bisnis, dan menghabiskan waktu seraya menunggu mata kehilangan kekuatannya. Setelah di warnet, mulai membuka satu demi satu tujuan semula, ada sebuah surat yang masih sangat-sangat segar masuk ke salah satu mailing list yang saya ikuti. Tajuk surat itu lumayan menggugah saya untuk membukanya dengan segera. Saya lupa persisnya seperti apa, tapi isinya tentang salah satu band lokal yang berhasil mencuri rasa kagum yang terdapat di dalam diri ini, Superman Is Dead. Tanpa pikir panjang, saya buka email itu. Pengirimnya, saya masih ingat, Wendi. Seorang kritikus musik, seorang metalhead lokal kelas atas (yeah, ini cuma penafsiran dari masa lalu di dunia maya), dan seorang yang sangat dihargai di scene lokal Indonesia. Satu demi satu baris terpampang dalam waktu yang tidak terlampau lama. Setelah lengkap, saya mulai membacanya. Cerita yang dikirim Wendi merupakan forwarded email dari sebuah milis lain, kebetulan saya juga menjadi anggotanya. Tapi, entah kenapa saya tidak membuka milis tersebut malam itu. Cerita yang disuguhkan merupakan semacam laporan aksi panggung Superman Is Dead di Medan. Perjalanan membaca dari satu baris menuju baris berikutnya sangatlah tidak nyaman. Dikisahkan di sana,Superman Is Dead mendapatkan perlakuan yang sangat tidak layak dari publik Medan. Mereka memang mendapatkan lemparan khas orang Medan (konon, orang Medan biasa melempari artis musik yang dianggap penampilannya bagus. Entahlah, saya belum pernah menyaksikannya langsung). Tapi kali ini, bukanlah lemparan tanda salut yang mereka biasa lakukan. Tapi lemparan tanda penghinaan. Lemparan tanda benci. Lemparan tanda nggak suka. Dikisahkan satu demi satu spanduk beterbangan ke arah panggung. Bahkan di dalamnya ditulis juga mungkin kotoran manusia ikut terbang menuju ke arah mereka. Akhirnya Superman Is Dead mengakhiri penampilan mereka pada lagu ke enam. Ditulis di situ, mereka memutuskan untuk tidak lagi melanjutkan repertoir karena keadaannya memang sudah sangat tidak memungkinkan untuk melanjutkan pertunjukkan. Tapi kemarahan penonton tidak reda. Mereka masih berusaha untuk mengejar Superman Is Dead ke belakang panggung. Aura kekerasan sudah sangat membumbung tinggi waktu itu. Setelah melalui keadaan chaos yang sudah semakin tidak terkendali di venue, rombongan Superman Is Dead berhasil menyelamatkan diri keluar dari venue. Tapi, masih menurut cerita itu, penonton masih tidak puas. Mereka mulai meneriakkan agar mereka dikejar terus sampai ke penginapan. Untung, pada akhirnya hal ini tidak terjadi. Cerita pertama berakhir di sini. Saya terperanjat begitu cerita ini sampai di bagian akhir. Tidak percaya. Kecewa. Nggak bisa terima. Wah, campur aduk rasanya perasaan saya waktu itu. Tanpa pikir panjang, saya langsung mengambil ponsel di tas dan mengirim sebuah pesan singkat ke sebuah nomor ponsel +62817978XXXX, begini bunyinya: Dude, just read a fwded email from Wendi in SG groups.. Did u have a very fucking bad gig in Medan? The Story was so spooky. You have to see it asap. Cheerio.. Itu adalah salah satu nomor ponsel Rudolf Dethu, manajer Superman Is Dead. Malam itu, mereka juga punya sebuah jadwal di Yogyakarta. Ia tidak membalas. Saya pulang ke rumah. Sekitar pukul 1 dinihari saya mematikan ponsel saya. Sudah saatnya tidur. Paginya, saya bangun sekitar pukul 10 pagi. Begitu saya aktifkan kembali ponsel saya, sebuah sms masuk. Waktu pengirimannya 02:09:35. Sang pengirim: Dethu. Ini balasan sms saya semalam. Begini bunyinya: Bkn cuma Medan. Jogja juga rusuh. Sudah takdir SID he he… Tapi di Jogja klimaksnya bagus krn SID berdiri tegak menantang! Don’t worry, dude.We ain’t gonna give up! Saya kaget. For god sake, they’ve faced two nights in a row with some bloody bastard that ruined their gigs. What the fuck??? Saya langsung membalas sms itu. Wow. It must be a hard time 2 face 2 nights in a row with some chaos. Btw, i think u have to pass along this news. Some clarification, maybe. Be strong, man.. Singkat cerita, saya mendapat kabar yang sama sekali tidak mengenakan itu di pagi hari dan jujur, dari lubuk hati yang paling dalam, sebagai seorangpenggemar saya marah. Tidak pernah bisa menerima apa yang dilakukan para perusuh itu pada salah satu band yang saya gilai. Sekitar pukul 4 sore, ponsel saya berdering, tertera Dethu yang memanggil. Saya angkat. Kita ngobrol. Ia menanyakan apa saja yang tertulis di email itu. Dia juga bercerita tentang pertunjukkan di Yogya. Hal yang hampir sama terjadi kembali. Dethu mengisahkan bahwa mereka memang dilempari. Bahkan Bobby pun sempat mendapat bogem mentah dari penonton, walaupun tidak keras. Tapi, ironisnya pada akhir pertunjukkan seorang tokoh punk lokal yang cukup disegani -salah seorang teman Jerink juga-, namanya Burhan datang menghampiri mereka di belakang panggung. Burhan mengklarifikasi bahwa yang melakukan kekacauan itu bukanlah bagian dari anak punk Yogyakarta. Burhan mengaku tidak tahu siapa yang melakukan itu. Yang jelas, bukan komunitas punk Yogya. Lantas saya bertanya pada Dethu, “Elo tau nggak sih apa yang sebenernya salah pada diri kalian?” Dia menjawab, “Nggak. Nggak jelas kenapa kita diginiin.” Saya sudah menduga alasan itu yang akan keluar dari mulut dia. Sepanjang pembicaraan selama hampir 5 menit itu, saya cuma bisa berkata: “Anjing!” selama beberapa kali menyusul rasa panas saya pada cerita Dethu tentang perlakuan penonton pada Superman Is Dead. Saya hanya bisa menggolontorkan ide untuk membuat sebuah t-shirt bertuliskan 100% Superman Is Dead. Sederhana. *** Perkenalan langsung saya dengan band ini dimulai sekitar awal tahun 2002. Sebelumnya yang saya dengar hanya beberapa rilisan mereka yang tidak pernah saya dapatkan. Waktu itu, saya mendapat kabar bahwa mereka akan merilis sebuah EP (kemudian akan menjadi EP fenomenal mereka, Bad Bad Bad) yang merupakan rilisan penuh mereka yang ketiga. Pertangahan tahun, saya pergi ke Bali. Liburan. Saya memaksakan diri untuk datang ke Poppies Lane 2, markas mereka. Tujuannya:membeli kaos Superman Is Dead dan EP Bad Bad Bad. Dan, saya mendapatkannya. Saya ingat, waktu itu kopi terakhir yang ada di Twice Tape (toko rekaman milik Jerink) adalah kopi yang saya pegang sampai hari ini.Waktu itu, semua personil Superman Is Dead kebetulan ada di tempat itu dan sang kasir menawarkan tanda tangan semua personil di CD yang saya beli. Saya pikir, “Kenapa tidak?” Akhirnya saya kembali ke hotel, memutar CD tersebut di CD player saya dan…terkagum-kagum. Persentuhan kedua terjadi ketika band ini manggung di Jakarta akhir tahun 2002. Kebetulan saya juga mendapat sebuah tugas dari tempat saya bekerja untuk menulis tentang mereka. Saya harus menjalin komunikasi dengan Dethu sebelum datang dan mewawancarai mereka. Wawancara itu sendiri berjalan mulus. Saya membeli lagi sebuah kaos Superman Is Dead dengan harga khusus dan memenuhi undangan Dethu untuk datang ke kamar hotel Bobby yang tidak jauh dari venue pertunjukkan. Kami berjalan kaki. Berdua. Ia bercerita tentang banyak hal. Terutama tentang kiprah Superman Is Dead. Hari itu berakhir ketika saya memutuskan untuk pergi ke sebuah tempat lain. Saya menutupnya dengan sebuah sloki peletokan (entah apa saja campurannya) dalam botol Red Label. Setelah itu, saya hanya berkomunikasi dengan mereka lewat email. Tidak lebih. Hal yang paling prestisius adalah ketika sebuah email masuk ke inbox saya. Isinya sebuah konfirmasi bahwa mereka akan bekerja sama dengan sebuah mayor label lokal berskala internasional untuk 6 album ke depan. Ada sebuah hal yang jauh lebih membanggakan lagi, mereka mendapatkan kontrak ini tanpa sebuah penjajahan. Jadi, murni kerja sama. Bukan terdapat sebuah struktur hirarki majikan dan bawahan. Superman Is Dead mendapatkan sebuah kontrak yang sangat besar artinya untuk band yang berangkat dari bawah seperti mereka. Hebatnya pihak label yang mau mengejar mereka. Superman Is Dead tidak pernah mengirimkan sekopi pun rekaman atau demo mereka. Si produserlah yang mati-matian meyakinkan mereka agar mau bekerja sama. Lalu hal yang paling spektakuler pun terjadi. Mereka berhasil memaksa pihak label untuk menuruti keinginan mereka yang bersikeras tetap menggunakan lirik-lirik berbahasa asing di sebagian besar lagunya. Sepanjang pengetahuan saya, hanya Pas Band yang berhasil melakukan hal itu di album kedua mereka In (No) Sensation. Setelah itu, satu demi satu hal mencengangkan masuk kedua telinga saya. Mulai dari artwork album yang sangat bebas dan sepenuhnya dikerjakan oleh pihak Superman Is Dead hingga ke video klip yang dibuat salah satu sutradara lokal Bali. Buat saya, itu adalah sebuah prestasi yang sama sekali susah untuk didapat sebuah band lokal yang baru pertama kali berbaju label mayor. Superman Is Dead punya konsep. Mereka punya sebuah posisi tawar yang sejajar dengan sang label. Jerink suatu kali pernah berkata bahwa mereka tidak menganggap sebuah masalah jika harus merilis album dengan tangan sendiri lagi. Tapi, tidak juga menutup sebuah kerja sama dengan label mayor. Itulah yang tidak banyak diketahui orang. Mereka memulainya dengan sebuah konsep musik yang jelas, sebuah positioning yang bagus, dan tentunya attitude yang bagus.Tapi semuanya seolah berputar terbalik ketika album baru mereka resmi dirilis ke pasaran. Awalnya beberapa kolega mengkritik kualitas rekaman yang cenderung terdengar pop dan akan jauh lebih baik jika mereka mengerjakannya sendiri di kampung halaman dengan studio jelek. Bukan studio maha mutakhir milik label. Mereka menerimanya. Toh, itu namanya kritik. Bukan penjelekkan. Bagaimana juga, kritikan paling bagusmemang datang dari teman. Mereka akan obyektif menilai sebuah karya. Karena memang semuanya murni, tanpa pretensi macam-macam. Superman Is Dead menyadari kekurang sempurnaan yang mereka miliki dalam rekaman Kuta Rock City. Kalau secara materi album, tidak banyak yang berkomentar. Soalnya, lebih dari setengah lagu di album ini adalah lagu-lagu lama yang sudah pernah dirilis sebelumnya. Kelar dari kecaman keras beberapa kolega yang menyerang kualitas album mereka, Superman Is Dead mulai menghadapi sebuah tantangan yang besar. Oleh karena publisitas yang sangat besar (diawali ketika mereka terpilih menjadi MTV Eksklusif artist bulan Juli), kiprah band ini pun semakin tersorot oleh media secara luas. Penggemar-penggemar baru pun mulai bermunculan. Kebetulan mereka memainkan musik Punk yang sedang tersedot habis oleh tangan tidak kasat mata bernama Tren. Jadilah Superman Is Dead sebuah ikon punk lokal yang paling menonjol menurut penggemar baru tersebut. Padahal pada kenyataannya tidak ada satu pun ikon punk yang menonjol. Tidak ada satupun yang lebih hebat dari yang lainnya.Di sisi lain, orang-orang dari scene tempat mereka berasal mulai gerah. Beberapa dari mereka merasa Superman Is Dead telah melacurkan sebuah agama bernama Punk kepada sebuah label mayor yang kemudian menjadikan mereka mesin kapitalis. Mesin pengeruk uang. Padahal, mereka sama sekali kekurangan informasi yang baik, proporsional, tepat, layak, dan benar tentang kiprah band ini. Mulailah muncul satu demi satu anggapan bahwa Superman Is Dead adalah budak kapitalis dengan bergabung dengan mayor label. Superman Is Dead bukan punk lantaran bersedia bergabung dan menjadi sebuah bagian dari mayor label dan industri musik mainstream. Superman Is Dead bukan underground lagi. Superman Is Dead cuma cari uang. Superman Is Dead menjual punk pada masyarakat kapitalistik Indonesia. Bla, bla, bla… Hal ini seolah semakin terakomodir begitu situs mereka http://www.supermanisdead.net resmi dibuka. Lama kelamaan message board dan guest book mereka menjadi tempat sampah bagi sebuah perang yang tidak jelas antara pendukung dan pembenci mereka. Pada awalnya, manajemen band ini berusaha untuk menanggapi satu demi satu keluhan yang masuk. Termasuk menjual konsep freedom to speech dan freedom to act. Dethu dan Ade Putri berusaha melayani semua keluhan yang masuk ke telinga mereka. Tentunya juga berusaha untuk mengklarifikasi setiap tuduhan yang masuk ke tubuh Superman Is Dead. Berusaha meluruskan fakta-fakta yang terdistorsi entah berapa ratus persen. Tapi usaha itu sama sekali tidak berhasil. Ibaratnya, mereka berdua hanya menabur garam di lautan luas. Pihak-pihak yang merasa punya hak untuk menjadi hakim tanpa status berusaha untuk menjatuhkan Superman Is Dead. Mereka tidak goyah. Dethu dan Ade Putri memang telah mengurangi serangan balik mereka terhadap para penyerang. Tapi tidak dengan usaha ekstra keras mereka untuk tetap menjadi punkers-punkers sejati. Bagi orang-orang seperti saya yang sudah menjadi penggemar mereka sejak mereka belum menjadi seperti sekarang ini tentunya sangat sedih. Ketika ratusan bahkan ribuan orang menuduh mereka berubah, menjadi tidak underground lagi, dan berbagai tuduhan miring lainnya, seolah-olah mereka tidak lebih dari penjahat paling kejam. Kejahatannya: menjual Punk! *** Banyak orang tidak mengerti secara pasti bagaimana kelakuan sebuah konspirasi bernama Superman Is Dead ini. Sudah terlalu banyak bukti yang bisa dikedepankan untuk menjawab berbagai macam tuduhan yang mampir ke Superman Is Dead. Tapi sayang, kesempatan tidak pernah mampir juga untuk mereka menjelaskan semuanya. Saya sendiri punya berbagai macam memori tentang mereka yang berhasil menancapakn sebuah state of mind bahwa mereka adalah teman, idola, dan partner. Coba saja seandainya orang banyak tahu berapa banyak orang yang masuk dalam guest list mereka setiap manggung. Berapa banyak uang tambahan yang harus keluar dari kantong mereka hanya sekedar untuk beli bir tambahan karena jatah bir dalam riders pertunjukkan mereka sudah habis. Bagaimana mereka menjual kaos dengan harga murah lantaran tidak enak hati kepada teman. Bagaimana marahnya mereka ketika tahu panitia Clear Top Ten Award menaruh segerombolan penari bodoh untuk mendukung penampilan mereka tempo hari (akibatnya mungkin kerasnya muka Bobby ketika berteriak lagu ini untuk Cheerleader yang ingin jadi Punk Rock Star sembari menunjukkan telunjuknya ke arah mereka). Masih banyak lagi bukti yang pantas dikedepankan untuk menjadikan mereka kontra dengan berbagai tuduhan itu. Makin jelas, mereka yang mencela, menghina, berusaha menghancurkan, menjatuhkan karakter Superman Is Dead sama sekali bukan orang yang mengerti mereka dengan baik dan benar. Bagi saya, dalam posisi seorang penggemar, karakter mereka tidak akan pernah berubah. Mereka masih orang-orang lama yang saya kenal sebelum mereka menjadi jauh terkenal seperti sekarang ini. Mungkin adalah sebuah hal yang sangat perlu jika suatu saat mereka duduk bersama-sama di sebuah meja yang sama dengan berbagai macam pihak yang mengecam tingkah laku mereka yang terstigma dalam sebuah cap negatif produksi omong kosong pinggir jalan. Duduk bersama, ngobrol bagaimana punk itu seharusnya, bagaimana menjadi pemusik yang baik dan benar, kemudian menggelar konfrensi pers bersama-sama apa akhirnya pembicaraan itu. Tapi, akankah semua menjadi selesai dengan begitu saja? Saya pernah membayangkan, mungkin di dalam alam pikirannya masing-masing, 4 orang anggota Superman Is Dead (plus Dethu), pasti punya pemikiran sederhana. Awalnya mereka memulai ini hanya untuk bersenang-senang. Memainkan lagu-lagu mereka di depan orang banyak. Dalam pandangan obyektif, yang mereka lakukan adalah bermain musik, jadi mereka hanya pantas disorot dalam segi musik. Tidak lebih. Selebihnya, itu adalah masalah lain. Ketika menengok ke perkataan Chris Joannou di atas, saya yakin ada di antara mereka yang berpikiran seperti ini sekarang. We just loved to play… Nggak lebih. Felix. Seorang penggemar, teman, partner bisnis Superman Is Dead. ekonomi membuat kami mendefinisikan otonomi pada mesin fotokopi ——————————————————————————– >>> WENDI <<< jujur, gue males banget ngomentarin ketololan-ketololan para patriot punk yang berkelakuan fasis kayak gitu. Sangat mundurr… topik major label, pengkhiantan g 30 s pki, bla bla bla juga kontraproduktif. bukan sok naif, tapi sempetlah gue “berproses” kayak gitu sebelomnya. cuma kayaknya kok hal begituan belom tuntas aja di sebagian punk medan ama jogja. ini menurut gue, katakan kalo gue salah. di jakarta sendiri, patriot punk penolak sid juga banyak banget dan gue tau pasti itu. beberapa godfather punk sini yg punya ribuan massa pengikut loyal juga sempet diskusi dengan gue masalah sid-sid-an ini. mereka ini udah puluhan tahun ngepunk di jalanan (1987+) dan sering banget direpresi aparat hanya karena menjadi seorang punk. waktu itu kita diskusi hot banget kayak film bokep. argumentasi pun tajam-tajam kayak gelang spike. tapi semuanya kelar sampe disitu…….mereka gak ambil pusing, asli gak ambil pusing……sid mo masuk major label, kek, sid dapet award, kek, sid manggung ditonton 40.000 orang, kek. bodo amat. mereka absen disitu. sementara, di saat yang bersamaan dengan kejayaan sid, hidup mereka tetap keras di jalanan dan tetap beroperasi secara diy. mereka sadar dan mereka pun sangat waras kalo band mereka ain’t going to be the next big thing! band mereka tidak akan kemana-mana. dan ini adalah PILIHAN mereka. malah ada yang udah jadi JALAN HIDUP segala. buat gue inilah namanya KEDEWASAAN. respek bgt gue ama mereka. tetap setia sampai akhir dalam keyakinan, tanpa harus repot-repot ngurusin sesuatu yang udah jadi PILIHAN orang laen adalah sikap elegan. intinya, mind your own fucking business ajalah! lalu boikot pun bukan berarti datang ke konser sid untuk berkelakuan kayak preman. boikot ‘yang baik dan benar’ adalah dengan tidak datang ke konser sid! karena kalo datang, apalagi sampai berada di barisan terdepan adalah FANS namanya. lho, lalu apa arti itu semua? ternyata pemukulan, pelemparan, flying sources, eksibisi genital, kata-kata kotor adalah sebuah aksi dan bentuk apresiasi yang tergolong avant-garde belakangan ini. niscaya bakal menjadi trend sepuluh tahun lagi. kasus ini sama halnya ketika dunia tercengang- cengang melihat kebrutalan penonton di mosh pit sekitar dua puluh tahun yang lalu. nah, sekarang jadi hal yang lumrah, kan? bahkan pak warno, seorang polisi bogor pun bisa berkomentar “ah, itu mah tradisi mereka” waktu asyik santei ngejagain sebuah konser metal di sana tempo hari. ini bakal laen kalo konteksnya konser dangdut yang sangat tipikal itu…..”pusing saya,” katanya. mungkin demikianlah fenomenanya, sodara-sodara. gue sendiri tahu sid sejak taon 96, sekitar setaon setelah mereka terbentuk. waktu itu gue nonton konser mereka langsung di bali dalam acara total uyut. moel, seorang scenester metal kugiran di sana dengan bangganya menceritakan band ini scr berapi-api ke gue. waktu itu masih meng-cover lagu orang (who didn’t?) dengan dress-up yang…duh! even jerinx sendiri sempet tersipu-sipu waktu gue ceritain hal ini tempo hari. gue gak banyak komentar waktu itu ttg sid ini. dalam hati gue, lu bisa temuin puluhan atawa mungkin ratusan band yang kayak gini di jakarta dan bandung. ya, dalam situasi kayak gitu under-estimate kadang2 perlu….. sementara kita di jawa sibuk dengan scene masing-masing. sid juga makin keras latian dan sibuk manggung sana-sini di seputaran bali. menurut dethu, malah sempet ditonton tiga orang doang. itu udah termasuk dia dan temen ceweknya yang jadi penggembira. jiing, berarti penonton aslinya cuma satu orang doang! singkat kata, singkat cerita. gosip tentang sid makin mengganas di ibukota. mulai dari yang drummernya bule, konser di aussie, sampe manggung bareng nofx dan social distortion di bali, semuanya mampir di kuping gue. sial, sempet shock juga pas tau gosip ini ternyata makin menggila dan berubah menjadi mitos. u know myths…..even seorang malin kundang aja bisa jadi batu. wiii, mengerikan! tapi begitulah adanya. band ini awalnya (buat anak-anak di jakarta atau mungkin bagian lain pulau jawa) memang diBESARkan oleh mitos! makanya jangan heran kalo ada gosip mereka rasis apalagi pernah sesumbar FUCK JAVANESE, itu cuma MITOS! di laen sisi, kehebatan sid dalam mengolah mitos menjadi sesuatu yang berimplikasi positif bagi band juga mesti diacungin jempol. mungkin mereka scr gak sengaja mengimplementasikan mitos organizing atau bisa jadi mereka (dethu exactly) sangat aware dengan teori-teori propaganda ala goebbels? who knows? yang pasti, invasi yang dilakukan sid di ibukota udah berhasil. karena sebelumnya, band bali mana selain eternal madness yang bisa dikenal disini? dan itu pun masih terbatas di kalangan metalheads doang. who’s putting bali on the map? siapa yang memicu a&r label- label rekaman major sini jadi pada bergenit-genit ria dengan band- band bali? hahaha….. gue gak suka kuta rock city (stupid major label record, very poor on mixing), gue juga benci banget ngeliat mereka tiap kali manggung jelek. tapi gue suka band ini. mereka udah bekerja keras banget untuk bisa mencapai ini semua. ini mesti dihargai. gue juga sangat yakin mereka udah paham semua konsekuensi dari menceburkan diri ke dalam industri. industri yang melakukan fabrikasi “melodic/pop punk” seperti saat ini. cuma ada satu hal mengganjal, apakah semua ini akan menjadi “trend ska” selanjutnya atau gimana? jika ya, well, bersenang-senanglah, guys….your fifteen minutes of fame, maybe couldn’t last forever! prove you right, prove ‘em wrong…… inhale/exhale, wenz ps: felix, tulisan lo bagus tuh! enjoy it so much. minus semua bullshit ttg gue pastinya. metalhead kelas atas? WTF? ——————————————————————– >>Arian Arifin<< Duh. That’s why I’m not sure Rancid can play here, y’know what I mean? Punk tentu saja harus selalu menjadi sebuah ‘threat’, dalam pemikiran, bukan jadi ‘threat’ fisik. I don’t know. gue sendiri sih prihatin kalau sikap chaos jadi membuat ketidaknyamanan individual atau banyak orang. Apalagi didasari oleh berita selentingan, a.k.a. gosip. Norak. Sure SID is punk rock musically, kalau definisi punk non-punk sendiri siapa sih yang bisa ngejelasin? Sama dengan underground. Gue nggak tahu kalau ternyata memang ada buku panduan ‘The Laws of the Underground: Guide to A Perfect Underground Scene’. Uh. Seharusnya mereka baca ya? ^_^ Masalah major-non major, underground-non underground, buat gue udah basi banget, hohoho tentu saja bisa didiskusikan panjang lebar 4 hari 4 malam bahkan lebih. Kalau merasa SID memang, uh, ‘membelot’, ya sudah nggak usah beli albumnya atau nonton performancenya. Segampang itu kok. “Punk sudah dijual, sekarang ABG trendy aja udah pake gelang dan sabuk spike!” Awww. Get over it, it’s soooo last 20 years! Punk sudah terjual sejak Ramones masuk Sire, Malcolm McLaren memperkenalkan Sex Pistols, MC5 dan Iggy Pop di Elektra. Kok baru ribut sekarang? Rancid dengan Warner, Green Day, Bad Religion, etc. ‘Selling out’, buat gue adalah melakukan hal-hal yang tidak disukai, tapi demi uang melakukannya. Gue pribadi sih nggak melihat SID melakukan hal tersebut. Tentu saja mereka sekarang jauh lebih bisa menghidupi kehidupannya scara album laku 70.000 kopi dan mungkin lebih. Dan nggak salah untuk bisa hidup dari sesuatu yang mereka sukai: main musik. Toh gue nggak pernah denger mereka berapi-api bilang: DIY or DIE! Aaww. In my opinion, punk is about being yourself in this manufactured, fabricated world, dare to be different, and questioning everything. [for instance, Green Day is as punk as Crass in a different way. Blink 182 and His Hero Is Gone. Dita Indahsari and even Garin Nugroho is a punk. So is MTV Jackass and No WTO Home Video.]. Busted, that boy band sure ain’t punk. Gue rasa juga banyak yang sirik kok ke SID. I know a lot of punk bands want to be in SID shoes, so they say bullshits about them. Gue inget betul pas SID dirusuhin di Surabaya, ada anak band lokal yang semangat ikut ngerusuhin. Dia vokalisnya. Pas gue tanya kenapa SID dirusuhin,whoaaaaa. Jawabannya banyak banget. “Ada apa sih?” “SID bilang fuck Java dulu!” “Kapan?” “Adalah! Mereka nulis ‘fuck Java’ di studionya?” “Oh ya? Kok gue nggak pernah lihat ya? Lu sendiri udah pernah ke studionya?” “Umm, belum sih… tapi temen gue yang liat!” “Oh, temen elo.. Trus?” “Gue ditelfon Jopie dari Spills Records marah-marah, katanya SID ingkar perjanjian dengan label indie Spills dan sign sama Sony!” “Ditelfon Jopie?” “Ya! Mereka nggak underground lagi dan memilih Sony!” “Gue deket sama Jopie kok. Dia spesial nelfon elo? Gue nggak tahu lo sedekat itu dengan Jopie. Dia malah nggak apa-apa SID merilis album dengan Sony. Toh dengan Spills mereka memang cuman single saja.” “Ya pokoknya SID tuh ngaco!” “Ngaco gimana?” “Sok pake bahasa Inggris, belagu banget!” “Uh.. kan mereka asalnya juga dari Bali, yang kepake kalo enggak bahasa Bali ya bahasa Inggris… Bahasa Indonesia aja jarang!” “Nah itu mereka suka ngomong ‘fuck Java’ pas manggung! Dikiranya kita nggak ngerti apa? Anak anak Surabaya jadi marah!” “Anak-anak Surabaya? Bukannya mereka baru main pertama kali di Surabaya sekarang?” “Ah! Pokoknya SID ngaco!” Uh. Kurang lebih itu perbincangan saya. Sekarang, band Surabaya tersebut sign dengan EMI. Lucu juga setelah dia panjang lebar menceritakan bagaimana undergroundnya dia. Good for him. Lucu juga bagaimana sebuah gosip berkembang pesat dari hanya 1 mulut saja. Bagaimana sampai ke banyak orang? Udah distorsi banget kan. Lucu sekali kali kalau kebanyakan orang biasanya bicara tentang anti penindasan, sekarang menindas dalam bentuk baru. Gue sepakat banget sama Wendi tentang ‘mind your own business’. As long as you don’t fuck other people to get your goals, it’s allright. I don’t think SID fucked people over to get where they stand now. Musically, gue juga sepakat kala ‘Kuta Rock City’ nggak maksimal. Sayang soalnya. They still can develop though. Iwan Fals era ’80an juga musiknya jelek, lirik mungkin tajam, tapi musiknya biasa banget. Opini massa bisa membuktikan? Uh, kayaknya kalau demokrasi, kita memang belum siap. Sampai semua orang pinternya sama, gue pikir demokrasi nggak akan bisa jalan. Walaupun akan selalu saja orang yang lahir lebih pintar dan juga orang yang lahir bego. Mind you, with my rants. Cheers n’ beers! arian arifin ——————————————————————————– >>> SARAH FORBES <<< Thanks for this, I too find this whole “hardcore, punk rock” scene here ignorant, ridiculous and supremely ironic. I don’t like to add too much to an already disgraceful situation but this week has been too much. The alternative scene, in my opinion, should be a stage, in the broad sense, for anyone who chooses to express themselves freely, without stereotypes, limitations, and most of all, rules. Assuming we are all mature enough to be able to respect others and express our opinions in a reasonable manner. I know I’m in a biased position cause I’m a partner in SG (and very ‘close friends’ with SID manager!!!!) but reading through all the descriptions of events of the past week, in Medan and Yogya, has made me both angry and sad. I wish the youth in Indonesia could recognise their true enemies (the political and military status quo) and leave SID alone. Why don’t the band have the right to play what and how they want to play? If you don’t like it, don’t come. In truth, we don’t like you either. Cause it’s great to have opinions, but a little respect for individuality and freedom of choice would go along way. Especially cause that’s what the new generation should be fighting for, not against. Bersambung ke SID Archieve News 12b
sumber :www.supermanisdead.net

puisi-puisi chairil anwar

PRAJURIT JAGA MALAM

Waktu jalan. Aku tidak tahu apa nasib waktu ?
Pemuda-pemuda yang lincah yang tua-tua keras,
bermata tajam
Mimpinya kemerdekaan bintang-bintangnya
kepastian
ada di sisiku selama menjaga daerah mati ini
Aku suka pada mereka yang berani hidup
Aku suka pada mereka yang masuk menemu malam
Malam yang berwangi mimpi, terlucut debu……
Waktu jalan. Aku tidak tahu apa nasib waktu !

(1948)
Siasat,
Th III, No. 96
1949

MALAM

Mulai kelam
belum buntu malam
kami masih berjaga
–Thermopylae?-
- jagal tidak dikenal ? -
tapi nanti
sebelum siang membentang
kami sudah tenggelam hilang

Zaman Baru,
No. 11-12
20-30 Agustus 1957

KRAWANG-BEKASI

Kami yang kini terbaring antara Krawang-Bekasi
tidak bisa teriak “Merdeka” dan angkat senjata lagi.
Tapi siapakah yang tidak lagi mendengar deru kami,
terbayang kami maju dan mendegap hati ?

Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi
Jika dada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak
Kami mati muda. Yang tinggal tulang diliputi debu.
Kenang, kenanglah kami.

Kami sudah coba apa yang kami bisa
Tapi kerja belum selesai, belum bisa memperhitungkan arti 4-5 ribu nyawa

Kami cuma tulang-tulang berserakan
Tapi adalah kepunyaanmu
Kaulah lagi yang tentukan nilai tulang-tulang berserakan

Atau jiwa kami melayang untuk kemerdekaan kemenangan dan harapan
atau tidak untuk apa-apa,
Kami tidak tahu, kami tidak lagi bisa berkata
Kaulah sekarang yang berkata

Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi
Jika ada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak

Kenang, kenanglah kami
Teruskan, teruskan jiwa kami
Menjaga Bung Karno
menjaga Bung Hatta
menjaga Bung Sjahrir

Kami sekarang mayat
Berikan kami arti
Berjagalah terus di garis batas pernyataan dan impian

Kenang, kenanglah kami
yang tinggal tulang-tulang diliputi debu
Beribu kami terbaring antara Krawang-Bekasi

(1948)
Brawidjaja,
Jilid 7, No 16,
1957

DIPONEGORO

Di masa pembangunan ini
tuan hidup kembali
Dan bara kagum menjadi api

Di depan sekali tuan menanti
Tak gentar. Lawan banyaknya seratus kali.
Pedang di kanan, keris di kiri
Berselempang semangat yang tak bisa mati.

MAJU

Ini barisan tak bergenderang-berpalu
Kepercayaan tanda menyerbu.

Sekali berarti
Sudah itu mati.

MAJU

Bagimu Negeri
Menyediakan api.

Punah di atas menghamba
Binasa di atas ditindas
Sesungguhnya jalan ajal baru tercapai
Jika hidup harus merasai
Baca lebih lanjut

chairil anwar

Chairil  Anwar
Legenda Sastra
yang Disalahpahami

Chairil Anwar adalah legenda sastra yang hidup di batin masyarakat
Indonesia. Ia menjadi ilham bagi perjuangan kemerdekaan bangsanya.Namun siapa sangka, penyair yang memelopori pembebasan bahasa Indonesia dari tatanan lama ini adalah juga seorang pengembara batin yang menghabiskan usianya hanya untuk puisi?

Berikut ini tulisan tentang Chairi Anwar, yang  sebagian besar bahannya dicuplik dari buku Chairil Anwar: Sebuah Pertemuan, karya Arief
Budiman, ditambah beberapa referensi lain serta sejumlah wawancara.

“Di Jalan  Juanda (Jakarta) dulu ada dua toko buku, yang sekarang
jadi kantor Astra. Namanya toko buku Kolf dan van Dorp. Koleksinya luar biasa banyak.

Saya dan Chairil suka mencuri buku di situ,” begitu Asrul Sani pernah
bercerita.

“Suatu kali kami melihat buku Friedrich Nietzsche, Also Sprach Zarathustra. `Wah, itu buku mutlak harus dibaca,’ kata Chairil pada saya. `Kau perhatikan orang itu, aku mau mengantongi Nietzsche ini.’ Chairil memakai celana komprang dengan dua saku lebar, cukup besar untuk menelan buku itu.”

Buku-buku filsafat, termasuk buku Nietzsche tadi, diletakkan di antara
buku-buku agama. Kebetulan buku Nietzsche ukuran dan warna  sampulnya yang hitam persis betul dengan kitab Injil. “Sementara Chairil
mengantongi buku, saya memperhatikan pelayan toko,” kata Asrul. “Hati saya deg-degan setengah mati.

Setelah buku berpindah tempat, kami lantas keluar dari toko dengan
tenang. Tapi sampai di luar tiba-tiba Chairil terkejut, `Kok ini? Wah, salah
ambil aku!’ sambil tangannya terus membolak-balik buku. Rupanya  Chairil salah mengambil Injil. Kami kecewa sekali.”

Chairil Anwar memang seorang “penggila” buku, yang dengan rakus
melahap karya-karya W.H. Auden, Steinbeck, Ernest Hemingway, Andre Gide, Marie Rilke, Nitsche, H. Marsman, Edgar du Peroon, J. Slauerhoff, dan banyak lagi.

Tapi dia adalah penggila buku yang urakan, selalu kekurangan uang, tidak
punya pekerjaan tetap, suka keluyuran, jorok, penyakitan, dan tingkah
lakunya menjengkelkan. Alhasil, lengkaplah “ciri-ciri” seniman pada
dirinya.

Namun, dia juga contoh yang baik tentang totalitas berkesenian dalam dunia sastra Indonesia. Jika Sanusi Pane, Amir Hamzah, Rustam Effendi, dan M. Yamin hanya menjadikan kegiatan menulis puisi sebagai kegiatan sampingan, di samping tugas keseharian mereka sebagai redaktur sebuah surat kabar, politikus, atau lainnya, ia semata-mata hidup untuk puisi dan dari puisi.

Tak Terurus. Nama Chairil mulai dikenal di kalangan seniman pada tahun
1943. H.B. Jassin punya cerita. “Suatu hari di tahun 1943,” tuturnya,
“Chairil datang ke redaksi Pandji Pustaka; seorang muda kurus pucat tidak terurus kelihatannya.

Matanya merah, agak liar, tetapi selalu seperti berpikir. Gerak-geriknya lambat seperti orang tak peduli. Ia datang membawa sajak-sajaknya untuk dimuat di majalah Pandji Pustaka. Tapi didapatnya keterangan bahwa sajak-sajaknya tidak mungkin dimuat. Kata pemimpin majalah itu, `Susunan Dunia Baru’ (sajak Chairil) tidak ada harganya. Sajak-sajak individualis lebih baik dimasukkan saja dalam simpanan prive (privacy) sang pengarang. Kiasan-kiasannya terlalu mem-Barat.”

Sejak itu sang penyair sering terlihat di kantor Pusat Kebudayaan
(Keimin Bunka Shidoso), yang didirikan Jepang tahun 1943 di Jakarta, dan diketuai sastrawan Armijn Pane. Di kalangan seniman waktu itu, ia mulai sering disebut-sebut sebagai penyair muda yang memperkenalkan gagasan-gagasan baru di sekitar puisi.

Gaya bersajak dan elan vital dalam puisi-puisinya yang bercorak individualistis dan mem-Barat membedakannya dengan kecenderungan puisi-puisi yang dilahirkan generasi sebelumnya (baca: Poedjangga Baroe).

Bukan secara kebetulan agaknya jika sajak-sajak Chairil memiliki
nuansa individualistis yang kental. Pergumulan total Chairil dengan kesenian agaknya telah menuntun sang penyair terjerembab dalam sebuah ritus pencarian filosofis.

Semacam tertuntun pada sebuah kredo bahwa di dalam kesenian, berfilsafat menjadi keniscayaan yang menusuk. Terutama karena berkesenian mengharuskan sang seniman berhadapan dengan problem-problem tentang ketuhanan, kebebasan, dan apa saja.

Salah Kaprah. Buat kita sekarang, sosok Chairil sudah lekat dengan citra
kepenyairan Indonesia. Sejumlah larik puisi dari penyair kita ini telah menjadi semacam pepatah atau kata-kata mutiara yang hidup di kalangan
masyarakat:

“Aku ini binatang jalang”, “Hidup hanya menunda kekalahan”,
“Aku mau hidup seribu tahun lagi”, dan masih banyak lagi. Atau    bertanyalah pada siswa SLTP dan SLTA siapa penyair kondang Indonesia, niscaya mereka akan menyebut namanya, lengkap dengan beberapa judul syairnya.

Tapi mungkin tidak banyak yang tahu, ada yang salah dalam persepsi kita
mengenai tokoh yang satu ini. Ada yang salah kaprah. Sebagai ilustrasi, sajak “Aku” lebih sering dipahami banyak orang sebagai sajak  pemberontakan terhadap penjajahan. Padahal tidak. Kata Asrul Sani, sajak itu sebenarnya tidak lebih dari “teriakan putus asa dan rasa getir”, termasuk penolakan terhadap sesuatu yang sangat berarti dalam hidupnya, yaitu ayahnya.

Sajak “Diponegoro” juga sering dikira sajak perjuangan.
Padahal, seperti pernah diulas Arief Budiman, sajak itu adalah cerminan dari ekspresi kekaguman Chairil pada semangat hidup Pangeran Diponegoro, di saat jiwanya amat diresahkan dengan kematian dan absurditas.

Ia menulis puisi pertamanya, “Nisan”, pada Oktober 1942, ketika ia berusia 20 tahun, ketika teknik persajakan belum dikuasainya benar. Para
pengamat sastra menganggap sajak ini sebagai sajak tertuanya. Padahal, menurut H.B. Jassin, sebelum “Nisan” Chairil sudah lebih dulu membuat sajak-sajak corak Pujangga Baru, tapi karena tidak memuaskannya lalu dia buang.

Bukan kematian benar menusuk kalbu
Keridhaanmu menerima segala tiba
Tak kutahu setinggi itu di atas debu
Dan duka maha tuan tak bertahta.

Sajak “Nisan” ini, yang didedikasikan untuk neneknya yang baru meninggal, merupakan renungan Chairil tentang kematian, yang di matanya teramat misterius, namun tak terhindarkan oleh siapa pun.

Renungannya ini lalu menghantarkan ia pada pertanyan eksistensial: “Bila manusia mati, lantas apa gunanya segala usaha yang dilakukan dalam hidup ini?”

Pertanyaan filosofis itu terus mengejarnya, sementara kehidupan sendiri
tidak pernah memberinya jawaban yang memuaskan. Maka bukan hal yang aneh, di saat batin kemanusiaannya begitu merindukan semangat menghadapi hidup yang absurd dengan gagah berani, tiba-tiba Chairil mendapati sosok legendaris Pangeran Diponegoro sebagai perwujudan yang konkret dari kegairahannya mempertahankan hidup.

Inilah agaknya yang lalu mengilhaminya menulis sajak “Diponegoro”, pada Februari 1943. Meski sama-sama berbicara tentang kematian, sajak-sajak yang ditulis Chairil menjelang akhir hayatnya lebih sublim dan intens.

Di samping teknik persajakan telah dikuasainya benar sehingga sajak-sajaknya terasa jernih, penghayatannya terhadap kehidupan (dan kematian) yang menjadi subjek puisi-puisinya juga telah mencapai klimaks kematangan sebagai seorang penyair.

Sajak pertama yang ditulis Chairil pada 1949 (tahun kematiannya)
adalah “Chairil Muda, Mirat Muda”, dengan tambahan judul kecil
“Di Pegunungan 1943″.

Sajak ini merupakan kenangan Chairil terhadap saat-saat yang paling
membahagiakan dalam hidupnya–sebuah perasaan yang wajar timbul pada orang-orang yang menyongsong kematian. Di akhir sajak tersebut ia
sempat menulis kata mati. Namun berbeda dengan sajak-sajaknya yang ditulis pada 1942, di mana kematian dipersoalkan dengan keterlibatan dan perhatian yang penuh, di sajak ini kematian diucapkannya dengan cara yang ringan saja.

Agaknya kematian bukan lagi sesuatu yang menjadi objek obsesinya, melainkan sebagai kenyataan yang sederhana, sama sederhananya dengan udara di muka bumi.

Dalam sajaknya “Yang Terampas dan yang Putus”, juga ditulis pada 1949, Chairil malah secara jelas menulis kesiapannya untuk menghadapi
kematian. Ia tiba-tiba menyadari bahwa impuls-impuls kehidupan tidak pernah sepenuhnya diam.

Demikian pula dalam sajak “Derai-Derai Cemara”, yang ia tulis sesudahnya. Dalam sajak yang ia tulis setelah percakapan yang panjang dengan dua sahabatnya, Rivai Apin dan Asrul Sani, Chairil kembali menegaskan bahwa kehidupan adalah sebingkai misteri yang tidak bisa kita temui artinya, tapi pada saat yang sama kita memiliki impuls untuk mempertahankannya.

Kita hidup, menurut Chairil, untuk sesuatu yang tidak kita ketahui maknanya.  Dan barangkali satu-satunya alasan untuk terus hidup adalah karena kita sedang mencari maknanya.

Namun misteri tetaplah sebuah misteri, ia tidak pernah akan bisa
terpecahkan. Karenanya mencari makna kehidupan adalah sesuatu yang sia-sia, meski harus terus dilakukan. Maka bagi Chairil, “hidup hanya
menunda kekalahan/ada yang tetap tidak diucapkan/sebelum pada akhirnya kita menyerah”.

Penyair Terbesar. Chairil memiliki simpati yang sangat besar terhadap
upaya meraih kemerdekaan manusia, termasuk perjuangan bangsa Indonesia untuk melepaskan diri dari  penjajahan. Pada 1948, sebagai bukti perhatiannya pada situasi sosial-politik waktu itu, ia menulis sajak
“Krawang-Bekasi”, yang disadurnya dari sajak “The Young Dead Soldiers”, karya Archibald MacLeish.

Kenang, kenanglah kami
Teruskan, jiwa kami
Menjaga Bung Karno
menjaga Bung Hatta
menjaga Bung Syahrir.

Pada tahun yang sama, ia menulis sajak “Persetujuan dengan Bung Karno”, yang merefleksikan dukungannya pada Bung Karno untuk terus
mempertahankan proklamasi 17 Agustus 1945. Belakangan, sajak Chairil yang berjudul “Aku” dan “Diponegoro” juga banyak dipahami orang sebagai sajak perjuangan. Padahal, sajak-sajak ini adalah
jenis sajak individu, yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan
perjuangan kemerdekaan karena ditulis pada 1943. Namun dalam sajak “Aku” misalnya, di mana Chairil mengintroduksi dirinya sebagai “Aku binatang jalang”, ia bisa menjelmakan kata hati rakyat Indonesia yang ingin bebas.

Dalam analisis Agus R. Sardjono, penyair terkemuka Bandung, sajak-sajak seperti “Krawang-Bekasi”, “Persetujuan dengan Bung
Karno”, “Aku”,  dan “Diponegoro” inilah yang justru di kemudian hari membuat Chairil Anwar menjadi legenda dalam dunia kepenyairan Indonesia.

Hal itu dimungkinkan karena sajak-sajak ini bersifat sastra mimbar, untuk menyebut  jenis sajak-sajak yang bersifat sosiologis (yang berpretensi untuk menjawab atau menanggapi fakta-fakta sosial), dan biasanya dibaca dengan suara keras atau menyeru-nyeru, serta
dengan tangan terkepal.

Masih menurut Agus, nama Chairil mungkin tidak akan begitu populer seperti sekarang bila dia hanya menciptakan sajak yang berjenis sastra kamar, sajak-sajak yang kontemplatif dan personal. Betapapun tingginya mutu sajak “Derai-Derai Cemara”, “Senja di Pelabuhan Kecil”, atau “Yang terampas dan yang Putus” secara kesusastraan, namun sajak-sajak demikian sama sekali tidak memiliki peluang untuk diapresiasi secara massal.

Namun, dengan segala ketidaksempurnaannya, keberhasilan terbesar
Chairil bagi dunia persajakan Indonesia khususnya, dan bahasa Indonesia
pada umumnya, adalah kepeloporannya untuk membebaskan bahasa Indonesia dari aturan-aturan lama (ejaan van Ophusyen) yang waktu itu cukup mengekang, menjadi bahasa yang membuka kemungkinan-kemungkinan sebagai alat pernyataan yang sempurna.

Kebebasan bahasa itu teramat penting. Terbukti Malasyia, negara yang
menggunakan bahasa Melayu, yang serumpun dengan bahasa Indonesia (tapi tidak pernah memiliki penyair sekaliber Chairil) dalam hal bahasa jauh tertinggal dari bangsa kita. Kebebasan bahasa itu adalah prestasi besar bangsa Indonesia.

Dengan itu kita dapat mengutarakan apa saja langsung dari lubuk hati
kita. Dan, seperti diamini banyak sastrawan kita, berkah itu adalah warisan Chairil Anwar, penyair terbesar yang pernah kita miliki.

Mengembara di Negeri Asing

Chairil Anwar tampaknya memang ditakdirkan untuk menjadi penyair yang disalahpahami. Tapi ia terbilang beruntung karena ia disalahpahami ke arah yang positif. Begitupun dalam hal religiusitas. Tidak sedikit orang yang menjulukinya penyair religius. Ini, antara lain, gara-gara sajak “Doa”,
yang memang amat religius.

Tak jarang, dalam peringatan hari-hari besar agama  Islam (juga Kristen), sajak tersebut dibaca dan memperoleh apresiasi yang luas. Benarkah ia penyair religius? Menurut penuturan Ida Rosihan Anwar (istri wartawan kawakan Rosihan Anwar yang sangat dekat dengan Chairil) dalam
kesehariannya Chairil tidak pernah memperhatikan hal-hal yang berkaitan dengan urusan agama. Ia tidak pernah tampak salat, berpuasa di bulan Ramadan, atau bahkan ikut bergembira pada Idul Fitri. Jadi, ia bukan muslim yang baik.

Namun, kalau kita mengacu pada kriteria filosof Paul Tillich tentang siapa
yang disebut religius, (yaitu mereka yang secara serius mencoba mengerti hidup ini secara lebih jauh dari batas-batas yang lahiriah saja), Chairil
termasuk kelompok ini.

Konklusi ini semata-mata bersandar pada penyerahan total Chairil untuk
menjawab pertanyaan “apa tujuan hidup saya”, dalam sepanjang masa
hidupnya.

Dan karena agama bagi banyak orang di dunia ini dianggap sebagai
jawaban pertanyaan “apa tujuan hidup saya?”, Chairil tidak luput
membicarakan agama dalam beberapa sajaknya. Sajak “Di Masjid”, yang
ditulisnya pada 29 Mei 1943, adalah sajak pertama mengenai hal ini.

Dalam sajaknya ini ia menegaskan sikapnya yang tidak mau terikat
apa pun juga, serta bersedia menerima segala bentuk penderitaan sebagai akibat pilihannya. Dia menolak untuk menyerah kepada agama, meskipun dia mengakui juga, agama mempunyai daya tarik yang sangat kuat sehingga sulit untuk melawannya: “Kuseru saja Dia/sehingga datang juga/Kamipun bermuka-muka/seterusnya ia bernyala-nyala dalam dada/Segala daya memadamkannya/Ini ruang/gelanggang kami berperang/Binasa membinasa/satu menista lain gila.

Sajaknya yang kedua tentang agama ditulis lima bulan kemudian, berjudul
“Isa”. Dalam sajak ini, selain terpesona, Chairil juga tersindir dengan pengorbanan dan penderitaan yang dialami Nabi Isa untuk menyelamatkan umat manusia.

Ia merasa “minder” lantaran sikap hidupnya yang hanya memikirkan
kemerdekaan diri sendiri, dan tidak peduli pada orang lain. Ia seperti dihadapkan pada pertanyaan, “Apakah sebuah pengorbanan ada artinya?”

Pertanyaan itu terus mengganggu hingga keesokan harinya dia menyerah
dan menulis sajak “Doa” sebagai ekspresi penyerahdiriannya kepada Tuhan. Ia berseru: Tuhanku/Dalam termangu/Aku masih menyebut nama-Mu/Biar susah sungguh/mengingat Kau penuh seluruh/caya-Mu panas suci/tinggal kerdip lilin di malam sunyi/Tuhanku/aku hilang bentuk/remuk/ Tuhanku/aku mengembara di negeri asing/Tuhanku/di pintu-Mu mengetuk/ aku tidak bisa berpaling.

Dalam sajak ini Chairil memang tidak menjelaskan  apa alasan ia “menyerah”, namun yang pasti ia merasa hilang bentuk dan  remuk ketika dia berjalan tanpa Tuhan.

Apakah dengan sajak ini Chairil telah  “menemukan kembali” Tuhan?
Jawaban sementara: “ya”. Agaknya bila  Chairil tiba pada suatu titik kehidupan di mana dia mengambil suatu sikap secara lebih utuh, maka perasaan tenang datang meneduhinya.

Pada Februari 1947, dalam suasana yang sudah berbeda, Chairil
kembali menulis sajak tentang agama, yang berjudul “Sorga”. Di sini,
dengan semangat eksistensialismenya yang kental, ia menggugat surga beserta gambarannya yang dijanjikan agama. Selanjutnya Chairil lebih memilih menolak agama karena agama memintanya untuk mengorbankan apa yang nyata sekarang, untuk digantikan sesuatu pada masa datang yang baginya belum pasti.

Maka bisa dipastikan, sesudah sikapnya ini Chairil kembali menemukan
dirinya  kesepian. Namun, perasaan itu tampaknya sudah dia harapkan
dan dia hadapi dengan tenang. Ia kembali memilih menjadi pengembara  selama hidupnya.

Meskipun, konon menurut kesaksian H.B. Jassin, menjelang mengembuskan nafasnya yang terakhir, Chairil ternyata  tetap tidak lupa menyebut nama Tuhan.

Di sela-sela panas badannya yang tinggi sebelum kematiannya, ia mengucap, Tuhanku, Tuhanku….

Gadis-Gadis Pun Memujanya

Teman dekat Chairil Anwar semasa kecil, Sjamsulridwan, pernah menulis di majalah Mimbar Indonesia, edisi Maret-April 1966. Katanya, salah satu sikap Chairil yang menonjol sejak kecil adalah sifatnya yang pantang  kalah.

“Keinginan, hasrat untuk mendapatkan itulah yang menyebabkan jiwanya selalu meluap-luap menyala-nyala, dan boleh dikatakan tidak pernah diam.”

Chairil dilahirkan di Medan, Sumatera Utara, pada 22 Juli 1922.
Ayahnya, Toeloes, berasal dari Payakumbuh (Sumatera Barat). Dia menjadi Pamongpraja di Medan, dan pada zaman revolusi sempat menjadi bupati Indragiri, Karesidenan Riau. Sedang ibunya, Saleha, berasal dari Koto Gadang (Sumatera Barat) dan masih mempunyai pertalian keluarga dengan ayah Sutan Syahrir  (tokoh PSI).

Menurut Sjamsulridwan, meski cukup terpandang dan disegani masyarakat sekitarnya, kehidupan kedua orangtua Chairil senantiasa ribut.  Mereka sama-sama galak, sama-sama keras hati, dan sama-sama tidak mau mengalah.

Hanya dalam satu hal mereka sama: dua-duanya sangat memanjakan Chairil. Segala keinginannya: mainan-mainan terbaru dan terbaik. Mereka pun selalu membenarkan sikap Chairil. Kalau ia berkelahi, ayahnya senantiasa membela. Bahkan kalau perlu ikut berkelahi.

Di luar rumah, Chairil tumbuh menjadi pemuda yang lincah dan penuh
percaya diri.  Di samping karena kedudukan ayahnya, otak yang tajam
dan cerdas serta sifatnya yang terbuka, tidak mengenal takut atau malu-malu, membuat ia dikenal dan menjadi kesayangan banyak pihak, baik di kalangan guru maupun di antara teman-temannya.

Di kalangan gadis-gadis, Chairil juga disukai karena wajahnya yang tampan dan menyerupai orang indo.

Demikianlah, semua orang seolah memanjakannya. Keuangannya tidak
pernah kurang. Sepedanya termasuk golongan yang  paling baik, di zaman
ketika mempunyai sepeda saja merupakan suatu kebanggaan. Dan ada sisi baik yang bisa dicatat dari gaya pergaulan Chairil, yaitu sikapnya tidak pernah sombong.

Meskipun dia angkuh dan selalu merasa hebat, dia selalu mudah sekali berkenalan dengan siapa saja, tanpa pernah membedakan status sosial, status ekonomi, dan intelektualitas.

Masa kanak-kanak hingga masa remaja Chairil dihabiskan di Medan.
Di HIS (setingkat SD) saja ia sudah menampakkan bakatnya sebagai siswa yang cerdas dan berbakat menulis. Lalu ia melanjutkan sekolahnya di MULO (Meer Uitgebreid Lager Onderwijs, setingkat SMP).

Ketika usia Chairil menginjak 19 tahun, dan duduk di kelas dua, ayahnya  kawin lagi dan bercerai dengan ibunya. Karena mulai membenci ayahnya dan menginginkan kehidupan yang lain, ia memilih hijrah ke Batavia (Jakarta), dan meneruskan pendidikannya di sana.

Tak lama kemudian ibunya menyusul ke Jakarta. Perang Dunia  II dan
masuknya Jepang telah membuat keadaan jadi tidak menentu. Chairil pun
terbelit masalah keuangan setelah tidak mendapat kiriman dari ayahnya.

Akhirnya ia putus sekolah. Saat putus sekolah itu Chairil mengisi hidupnya dengan menggelandang ke sana-ke mari, dan membaca buku sebanyak-banyaknya.   Sebagai orang yang menguasai tiga bahasa (Inggris, Belanda, dan Jerman), ia tidak mendapat halangan apa pun untuk bisa membaca dan memahami semua karya sastra asing yang ia jumpai.

Penguasaan bahasa asing yang baik inilah yang banyak menolong Chairil
sehingga banyak buku yang belum dibaca seniman lain, ia sudah tahu isinya. Ia pun banyak menyadur dan menerjemahkan karya-karya sastra dunia itu ke bahasa Indonesia dengan  baik.

Masih soal membaca, menurut Sjamsulridwan, ketika masih di MULO,
Chairil telah bergaul dengan anak-anak HBS (setingkat SMA) tanpa rendah diri.

“Semua buku mereka aku baca,” kata Chairil suatu hari. Di sini yang dimaksud Chairil adalah buku-buku mengenai pelajaran abstrak, seperti sastra, sejarah, ekonomi, dan lain-lain. Dan ucapan itu semata-mata untuk menunjukkan bahwa ia tidak pernah kurang dari mereka (anak-anak HBS).

Selama di Jakarta, Chairil juga mengembangkan pengetahuannya dengan meminjam buku dari pamannya, Sutan Sjahrir. Menurut H.B. Jassin, kalu sudah membaca buku, maka buku itu akan dibacanya dari malam sampai menjelang pagi.

Meskipun menganut pola kehidupan yang bohemian,  Chairil akhirnya
sempat juga berkeluarga. Ia menikah dengan Hapsah Wiraredja pada 6
Agustus 1946. Sayangnya rumah tangga mereka tidak bertahan lama. Akhir 1948 mereka bercerai, dan putri tunggal mereka, Evawani Alissa, dibesarkan Hapsah.

Tanggal 28 April 1949, setelah sempat diopname selama lima hari di  CBZ (sekarang RSCM) karena penyakit TBC yang dideritanya, Chairil
mengembuskan nafas terakhir.

Ia meninggalkan warisan karya yang tidak begitu banyak, yaitu 70
puisi asli, 4 puisi saduran, 10 puisi terjemahan, 6 prosa asli, dan 4
prosa terjemahan. Kepada Evawani, putrinya yang masih berumur satu tahun, Chairil bahkan hanya mewariskan sebuah radio kecil, berbentuk kotak warna hitam, bermerek Philips. Dan seperti memenuhi pesan profetik dalam salah satu bait puisinya: “di karet, di karet sampai juga/deru angin”, Chairil dimakamkan di Pemakaman Karet pada hari berikutnya.

sumber :sasteramaya.tripod.com

Biografi Ebiet G Ade, Sang Maestro Balada

Biografi Ebiet G Ade, Sang Maestro Balada

ebiet-g-adeAbid Ghoffard Aboe Dja’afar lahir di Wanadadi, Banjarnegara, 45 tahun silam. Pria yang kini dikenal sebagai Ebiet G Ade ini adalah seorang penyanyi dan penulis lagu yang karya-karyanya telah melegenda dan terkenal dengan balada yang syahdu dan syair-syair sarat makna dari lagu-lagu yang dibuatnya.

Setelah lulus SD, Ebiet kecil melanjutkan pendidikan di PGAN (Pendidikan Guru Agama Negeri) Banjarnegara. Namun karena tidak kerasan, dirinya pindah ke Yogyakarta. Di Jogja, Ebiet bersekolah di SMP Muhammadiyah 3 dan SMA Muhammadiyah 1. Ebiet termasuk siswa berotak encer. Namun ia tidak dapat melanjutkan perkuliahan di Universitas Gajah Mada karena ketiadaan biaya. Akhirnya Ebiet memilih untuk bergabung ke sebuah grup vokal.

Nama panggilan ‘Ebiet’ tersebut ada sejarahnya. Semasa SMA, Ebiet mengikuti kursus bahasa Inggris di sekolahnya. Pada saat itu, gurunya yang orang asing memanggilnya ‘Ebid’ alih-alih ‘Abid’. Dikarenakan pelafalan bule yang berbeda dari pelafalan Indonesia (‘A’ dibaca ‘E’). Akhirnya lama kelamaan teman-temannya lebih sering memanggilnya ‘Ebiet’. Sedangkan nama ‘G Ade’ merupakan akronim dari nama lengkapnya, ‘Ghoffar Aboe Dja’afar’.

Ebiet memasuki dunia seni di Yogyakarta sejak tahun 1971. Saat itu, dirinya bersahabat dengan sejumlah seniman Jogja yang terkenal  handal bermain kata. Mereka antara lain Emha Ainun Najib (penyair), Eko Tunas (penulis cerpen) dan E.H Kartanegara (penulis). Karir awal Ebiet sebagai penyanyi adalah dengan melagukan syair-syari karya Emha Ainun Najib. Namun ketika masuk dapur rekaman, syair-syair tersebut tak lagi dibawakannya.Hal ini karena Ebiet pernah disindir oleh teman-temannya untuk membuat dan menyanyikan karyanya sendiri.

Ebiet sendiri merupakan seorang pembuat syair puisi yang handal, namun ia tak bisa berdeklamasi dengan puisi tersebut. Akhirnya ia mencari cara lain untuk membacakan puisinya tanpa harus berdeklamasi. Yakni dengan melagukannya.. Inilah cikal bakal Ebiet G Ade yang kita kenal sekarang. Ebiet lebih suka disebut penyair ketimbang penyanyi. Ia dikenal tak suka mendengarkan musik hingga sekarang.

Pada awalnya, Ebiet hanya tampil di panggung-pangung seputar Jawa Tengah dan DIY saja. Awalnya hal tersebut hanya dilakukannya sebagai hobi semata, namun desakan dari para sahabatnya akhirnya membut Ebiet bersedia memasuki dunia rekaman.

Sekian lama tampil, Ebiet sempat berhenti pada tahun 1990. Selama 5 tahun dirinya tidak pernah terlihat tampil lagi di panggung musik. Pada tahun 1995, barulah ia kembali menyeruak. Dua album ditelurkannya saat itu, yakni Cinta Sebening Embun – Puisi-Puisi Cinta, dan Kupu-Kupu Kertas. Album Kupu-Kupu Kertas didukung oleh sejumlah musisi papan atas seperti Ian Antono, Billy J. Budiardjo, Purwacaraka, dan Erwin Gutawa.

Pada tahun 1996, Ebiet kembali berkarya dan mengeluarkan album bertajuk Aku Ingin Pulang15 Hits Terpopuler. Selang dua tahun kemudian, sebuah album bertajuk Gamelan dirilisnya. Album ini berisi 5 lagu lama miliknya yang diaransemen ulang dengan menggunakan alat musik gamelan.

Pada tahun 2000, Ebiet lagi-lagi merilis album, bertajuk Balada Sinetron Cinta. Tak puas sampai di situ, ayah empat anak ini kembali berkarya pada tahun 2001 dengan merilis album Bahasa Langit, yang didukung sejumlah musisi seperti Andi Rianto, Erwin Gutawa dan Tohpati.

Ebiet menikah dengan Yayuk Sugianto pada tahun 1982 dan dikarunia 4 orang anak. Salah satunya adalah Abietyasakti Ksatria Kinasih yang kini menjadi manajernya.

Profil singkat :

Nama : Abid Ghoffar Aboe Dja’far

Nama Beken : Ebiet G Ade

Tempat / Tanggal Lahir : Wanadadi, Banjarnegara / 21 April 1955

Status : Menikah

Istri : Yayuk Sugianto

Anak:

  • Abietyasakti Ksatria Kinasih
  • Adaprabu Hantip Trengginas
  • Byatuasa Pakarti Hinuwih
  • Segara Banyu Bening.

Beberapa karya terbaik Ebiet G Ade antara lain :

“Titip Rindu Buat Ayah

“Dosa Siapa, Ini Dosa Siapa

“Cita-Cita Kecil si Anak Desa

“Nasihat Pengemis Untuk Anak Istri & Doanya Untuk Hari Esok mereka

“Nyanyian Ombak

“Berjalan Di Hutan Cemara

“Hidup I (Pernah Kucoba Untuk Melupakanmu)

“Hidup II (Obsesi KP. I/203)

“Hidup III

“Hidup IV

“Lolong

“Kalian Dengarkan Keluhanku

“Camelia

“Pranala luar

“Berita Kepada Kawan

Namun salah satu yang akan dikenang sebagai karya terbesar Ebiet adalah lagu ‘Berita Kepada Kawan‘ yang liriknya sebagai berikut :

ho ho ho ho ho ho ho ho ho ho ho ho

Tubuhku terguncang di hempas batu jalanan
Hati tergetar menampak kering rerumputan
Perjalanan ini pun seperti jadi saksi
gembala kecil menangis sedih ho ho ho ho

Kawan coba dengar apa jawabnya
ketika ia kutanya “Mengapa?”
Bapak ibunya telah lama mati
ditelan bencana tanah ini

Sesampainya di laut kukabarkan semuanya
kepada karang, kepada ombak, kepada matahari
tetapi semua diam, tetapi semua bisu
Tinggal aku sendiri terpaku menatap langit

Barangkali di sana ada jawabnya
mengapa di tanahku terjadi bencana
Mungkin Tuhan mulai bosan melihat tingkah kita
yang selalu salah dan bangga dengan dosa-dosa
atau alam mulai enggan bersahabat dengan kita
Coba kita bertanya pada rumput yang bergoyang

ho ho ho ho ho ho ho ho ho ho ho ho
ho ho ho ho ho ho ho ho ho ho ho ho

Kawan coba dengar apa jawabnya
ketika ia ku tanya “Mengapa?”
Bapak ibunya telah lama mati
ditelan bencana tanah ini

Sesampainya di laut kukabarkan semuanya
kepada karang, kepada ombak, kepada matahari
tetapi semua diam, tetapi semua bisu
Tinggal aku sendiri terpaku menatap langit

Barangkali di sana ada jawabnya
mengapa di tanahku terjadi bencana
Mungkin Tuhan mulai bosan melihat tingkah kita
yang selalu salah dan bangga dengan dosa-dosa
atau alam mulai enggan bersahabat dengan kita
Coba kita bertanya pada rumput yang bergoyang

ho ho ho ho ho ho ho ho ho ho ho ho
ho ho ho ho ho ho ho ho ho ho ho ho

Lagu tersebut kini mulai sering berkumandang, sebagai latar belakang yang mengiringi dokumentasi bencana alam dan musibah yang sedang melanda Indonesia di beberapa daerah, antara lain Merapi, Mentawai dan Wasior.

Terus berkarya, bang Ebiet!!

sumber:http://gugling.com

sejarah punk

Punk merupakan sub-budaya yang lahir di London, Inggris. Pada awalnya, kelompok punk selalu dikacaukan oleh golongan skinhead. Namun, sejak tahun 1980-an, saat punk merajalela di Amerika, golongan punk dan skinhead seolah-olah menyatu, karena mempunyai semangat yang sama. Namun, Punk juga dapat berarti jenis musik atau genre yang lahir di awal tahun 1970-an. Punk juga bisa berarti ideologi hidup yang mencakup aspek sosial dan politik.  

Gerakan anak muda yang diawali oleh anak-anak kelas pekerja ini dengan segera merambah Amerika yang mengalami masalah ekonomi dan keuangan yang dipicu oleh kemerosotan moral oleh para tokoh politik yang memicu tingkat pengangguran dan kriminalitas yang tinggi. Punk berusaha menyindir para penguasa dengan caranya sendiri, melalui lagu-lagu dengan musik dan lirik yang sederhana namun terkadang kasar, beat yang cepat dan menghentak.

Banyak yang menyalahartikan punk sebagai glue sniffer dan perusuh karena di Inggris pernah terjadi wabah penggunaan lem berbau tajam untuk mengganti bir yang tak terbeli oleh mereka. Banyak pula yang merusak citra punk karena banyak dari mereka yang berkeliaran di jalanan dan melakukan berbagai tindak kriminal.

Punk lebih terkenal dari hal fashion yang dikenakan dan tingkah laku yang mereka perlihatkan, seperti potongan rambut mohawk ala suku indian, atau dipotong ala feathercut dan diwarnai dengan warna-warna yang terang, sepatu boots, rantai dan spike, jaket kulit, celana jeans ketat dan baju yang lusuh, anti kemapanan, anti sosial, kaum perusuh dan kriminal dari kelas rendah, pemabuk berbahaya sehingga banyak yang mengira bahwa orang yang berpenampilan seperti itu sudah layak untuk disebut sebagai punker.

Punk juga merupakan sebuah gerakan perlawanan anak muda yang berlandaskan dari keyakinan we can do it ourselves. Penilaian punk dalam melihat suatu masalah dapat dilihat melalui lirik-lirik lagunya yang bercerita tentang masalah politik, lingkungan hidup, ekonomi, ideologi, sosial dan bahkan masalah agama.

Gaya hidup dan Ideologi

Psikolog brilian asal Rusia, Pavel Semenov, menyimpulkan bahwa manusia memuaskan kelaparannya akan pengetahuan dengan dua cara. Pertama, melakukan penelitian terhadap lingkungannya dan mengatur hasil penelitian tersebut secara rasional (sains). Kedua, mengatur ulang lingkungan terdekatnya dengan tujuan membuat sesuatu yang baru (seni).

Dengan definisi diatas, punk dapat dikategorikan sebagai bagian dari dunia kesenian. Gaya hidup dan pola pikir para pendahulu punk mirip dengan para pendahulu gerakan seni avant-garde, yaitu dandanan nyleneh, mengaburkan batas antara idealisme seni dan kenyataan hidup, memprovokasi audiens secara terang-terangan, menggunakan para penampil (performer) berkualitas rendah dan mereorganisasi (atau mendisorganisasi) secara drastis kemapanan gaya hidup. Para penganut awal kedua aliran tersebut juga meyakini satu hal, bahwa hebohnya penampilan (appearances) harus disertai dengan hebohnya pemikiran (ideas).

Punk selanjutnya berkembang sebagai buah kekecewaan musisi rock kelas bawah terhadap industri musik yang saat itu didominasi musisi rock mapan, seperti The Beatles, Rolling Stone, dan Elvis Presley. Musisi punk tidak memainkan nada-nada rock teknik tinggi atau lagu cinta yang menyayat hati. Sebaliknya, lagu-lagu punk lebih mirip teriakan protes demonstran terhadap kejamnya dunia. Lirik lagu-lagu punk menceritakan rasa frustrasi, kemarahan, dan kejenuhan berkompromi dengan hukum jalanan, pendidikan rendah, kerja kasar, pengangguran serta represi aparat, pemerintah dan figur penguasa terhadap rakyat.

Akibatnya punk dicap sebagai musik rock n’ roll aliran kiri, sehingga sering tidak mendapat kesempatan untuk tampil di acara televisi. Perusahaan-perusahaan rekaman pun enggan mengorbitkan mereka.

Gaya hidup ialah relatif tidak ada seorangpun memiliki gaya hidup sama dengan lainnya. Ideologi diambil dari kata “ideas” dan “logos” yang berarti buah pikiran murni dalam kehidupan. Gaya hidup dan ideologi berkembang sesuai dengan tempat, waktu dan situasi maka punk kalisari pada saat ini mulai mengembangkan proyek “jor-joran” yaitu manfaatkan media sebelum media memanfaatkan kita. Dengan kata lain punk berusaha membebaskan sesuatu yang membelenggu pada zamannya masing-masing.

Punk dan Anarkisme

Lihat juga Anarko-punk

Kegagalan Reaganomic dan kekalahan Amerika Serikat dalam Perang Vietnam di tahun 1980-an turut memanaskan suhu dunia punk pada saat itu. Band-band punk gelombang kedua (1980-1984), seperti Crass, Conflict, dan Discharge dari Inggris, The Ex dan BGK dari Belanda, MDC dan Dead Kennedys dari Amerika telah mengubah kaum punk menjadi pemendam jiwa pemberontak (rebellious thinkers) daripada sekadar pemuja rock n’ roll. Ideologi anarkisme yang pernah diusung oleh band-band punk gelombang pertama (1972-1978), antara lain Sex Pistols dan The Clash, dipandang sebagai satu-satunya pilihan bagi mereka yang sudah kehilangan kepercayaan terhadap otoritas negara, masyarakat, maupun industri musik.

Di Indonesia, istilah anarki, anarkis atau anarkisme digunakan oleh media massa untuk menyatakan suatu tindakan perusakan, perkelahian atau kekerasan massal. Padahal menurut para pencetusnya, yaitu William Godwin, Pierre-Joseph Proudhon, dan Mikhail Bakunin, anarkisme adalah sebuah ideologi yang menghendaki terbentuknya masyarakat tanpa negara, dengan asumsi bahwa negara adalah sebuah bentuk kediktatoran legal yang harus diakhiri.

Negara menetapkan pemberlakuan hukum dan peraturan yang sering kali bersifat pemaksaan, sehingga membatasi warga negara untuk memilih dan bertanggung jawab atas pilihannya sendiri. Kaum anarkis berkeyakinan bila dominasi negara atas rakyat terhapuskan, hak untuk memanfaatkan kekayaan alam dan sumber daya manusia akan berkembang dengan sendirinya. Rakyat mampu memenuhi kebutuhan hidupnya sendiri tanpa campur tangan negara.

Kaum punk memaknai anarkisme tidak hanya sebatas pengertian politik semata. Dalam keseharian hidup, anarkisme berarti tanpa aturan pengekang, baik dari masyarakat maupun perusahaan rekaman, karena mereka bisa menciptakan sendiri aturan hidup dan perusahaan rekaman sesuai keinginan mereka. Punk etika semacam inilah yang lazim disebut DIY (do it yourself/lakukan sendiri).

Keterlibatan kaum punk dalam ideologi anarkisme ini akhirnya memberikan warna baru dalam ideologi anarkisme itu sendiri, karena punk memiliki ke-khasan tersendiri dalam gerakannya. Gerakan punk yang mengusung anarkisme sebagai ideologi lazim disebut dengan gerakan Anarko-punk.

Punk di Indonesia

Berbekal etika DIY, beberapa komunitas punk di kota-kota besar di Indonesia seperti Jakarta, Bandung, Yogyakarta, dan Malang merintis usaha rekaman dan distribusi terbatas. Mereka membuat label rekaman sendiri untuk menaungi band-band sealiran sekaligus mendistribusikannya ke pasaran. Kemudian usaha ini berkembang menjadi semacam toko kecil yang lazim disebut distro.

CD dan kaset tidak lagi menjadi satu-satunya barang dagangan. Mereka juga memproduksi dan mendistribusikan t-shirt, aksesori, buku dan majalah, poster, serta jasa tindik (piercing) dan tatoo. Seluruh produk dijual terbatas dan dengan harga yang amat terjangkau. Dalam kerangka filosofi punk, distro adalah implementasi perlawanan terhadap perilaku konsumtif anak muda pemuja Levi’s, Adidas, Nike, Calvin Klein, dan barang bermerek luar negeri lainnya…””posted by:”wikipedia”.

sejarah SID

Sejarah:SID(Superman Is Dead)


SID, punk rock pionir Bali, lahir dan dibesarkan di rumah di Kuta Rock City. Band adalah tiga senar-sikap berat laki-laki muda, dengan nama: Bobby Kool (lead vokal, guitar, a dog lover dan desainer grafis), Eka Rock (low ridin ‘keluarga manusia, minum bir, laid back bass dan backing vokal dan kehangatan smilin ‘Rock’ N Roll nhung, IT warior), Jrx (low ridin ‘beer drinking Rock’ N Roll prince charming, drummer dan hairwax junkie, Bar owner) Nama ‘Superman is Dead’ started its’ evolution from Stone Temple Pilot’s “Superman Silvergun”.Nama dipindahkan ke “Superman is Dead” menyebabkan mereka menyukai gagasan bahwa tidak ada hal seperti itu sebagai orang yang sempurna itu. SID actually stumbled bersama dalam’95, diambil oleh mereka Common kasih Green Day dan NOFX. Pengaruh mereka segera diperluas ke punk ‘n roll genre a la Supersuckers, Living End dan Social Distortion, dan mereka tinggal di sini. Mereka mengatakan apa yang mereka ingin katakan, bagaimana mereka ingin katakan itu. Di wajahmu, mengatakan ia tepat. SID public image, self dijelaskan, adalah “Punk Rock yang Bali” (think raw energi NOFX Social Distortion vs supersonically fueled dengan bir bacak Bali Rockabilly sikap). Sejarah? SID menghasilkan tiga album pertama mereka mandiri (anak laki-laki yang bekerja tahun buruk sekali malam pekerjaan), dengan hebat, kecil indie label 1997 “Kasus 15″, 1999 “Superman is Dead”, 2002 “Bad Bad Bad” (mini album, track 6 ). Pada Maret 2003, SID akhirnya menandatangani dengan Sony-BMG Indonesia diperpanjang setelah negosiasi mengenai hak mereka untuk menyanyi kebanyakan lagu mereka dalam bahasa Inggris dan mempunyai hak penuh atas mereka artistik ‘gambar’!! Dengan keputusan yang mereka single handedly menjadi band pertama dari Bali yang akan diundang untuk sign dengan label rekaman besar di Indonesia, band yang pertama di negara mereka (untuk saya) yang akan merekam lagu mayoritas dalam bahasa Inggris dan band punk pertama di Indonesia untuk mendapatkan eksposur nasional dan promosi yang bekerja sama dengan label besar di negara dunia ketiga menyediakan. Sehingga sejarah Indonesia dimulai Punk Rock! Adapun pertanyaan yang ingin semua orang tahu, yang bernama bom di Bali terjadi sekitar 75 M dari rumah, markas pusat, punk rock butik, bar dan studio latihan yang juga Jrx ‘rumah, di jantung kota Kuta. Setelah panel pemukulan ulang rolling dari pintu studio dan pergeseran sedikit puing, rehearsals terus seperti biasa. Yeah, mereka melihat a lot, it sucked big time, but its’ not gonna stop ‘em! Dan di mana mereka sekarang? Pada akhir 2002, salah satu lebih terhormat musik mags disini dikutip SID sebagai “The Next Big Thing” for 2003. Dengan keempat mereka rilis album “Kuta Rock City” diikuti oleh utama memutar udara nasional dan di beberapa negara di luar negeri, digabungkan dengan cepat popularitas klip film terbaru mereka. SID tiba-tiba menemukan dirinya terus wisata di seluruh Indonesia. Minggu terakhir mereka di empat kota besar Indonesia, di tiga pulau, dalam 7 hari! Kadang-kadang bermain untuk klub tempat di bawah tanah, kadang-kadang di jalan alternatif atau pihak skate festival band, di banyak perguruan tinggi dan bahkan kadang-kadang di “classy” tempat-tempat yang mungkin akan menolak mereka masuk tahun lalu! Yang berarti lebih bir untuk semua. Pada tahun 2003 SID bahkan sempat menyebutkan dalam Time Asia. Mereka juga memenangkan beberapa penghargaan musik “MTV Award untuk The Best New Artist 2003″, “AMI Awards untuk The Best New Artist 2003″ dan dicalonkan lagi dalam “AMI Awards 2006 untuk The Best Rock Album”. Oktober 2007, mereka melakukan sebuah tur Australia, 8 kota, 16 gigs, 33 bulan dengan kuat bekerja etika DIY. SID telah membagi tahapan dengan band internasional seperti International Noise Conspiracy, NOFX, MXPX dan Hoobastank. Mereka tetap bangga, anak laki-laki dari jalan Kuta dengan kasih punk rock, bir dan bersenang-senang. Siap untuk apa saja yang datang berikutnya, gembira tentang pekerjaan berikutnya.
sumber :www.supermanisdead.net
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.